Konser “Sabas Na Mar-Tuhan” oleh Paduan Suara GKPI Siantar Kota

Sehubungan dengan Tahun 2015 adalah Tahun Musik Gerejawi bagi Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) sekaligus menggali dan mengembangkan nyayian dan musik gereja dalam rangka mewujudkan visi GKPI sebagai persekutuan penyembahan dan persembahan kepada Tuhan maka, Jemaat Khusus GKPI Siantar Kota, melalui Panitia Tahun Musik 2015 Jemaat Khusus GKPI Siantar Kota akan mengadakan Konser Paduan Suara dengan thema “Sabas Na Mar-Tuhan” pada tanggal 27 September 2015, Pukul 18:00 WIB, bertempat di International Restaurant & Convention Hall Pematangsiantar.
PS-SKota

Profil Paduan Suara GKPI Siantar Kota Jalan Simbolon

Pada mulanya adalah Koor Guru-guru pimpinan St. A. Sinaga (1911-1989) yang berbasis di HKBP Jalan Gereja, Pematangsiantar. Mereka adalah guru-guru dari berbagai sekolah yang ada di Pematangsiantar, dari tingkat SR sampai SLTA, dan berjemaat di HKBP Jalan Gereja.

Koor Guru-guru ini didirikan pada pertengahan 1963. St. A. Sinaga adalah kepala sekolah SMP Negeri 3 Pematangsiantar. Dia berbakat lebat dalam musik, akurat dalam solfeggio, dan punya koleksi partitur paduan suara berbagai komponis Eropa dari zaman Barok, Klasik, dan Romantik yang ia peroleh selama bersekolah di HIK Solo, Jawa Tengah pada masa Hindia Belanda. Sambil mempersiapkan repertoar dengan menerjemahkan teks-teks berbahasa Jerman dan mengalihkan not balok ke not angka, St. A. Sinaga selaku pendiri dan dirigen baru siap tampil perdana pada Perayaan Natal 1963 di HKBP Jalan Gereja.

Beberapa istri anggota dilibatkan–meskipun bukan guru–lantaran kemampuan mereka bernyanyi patut dibanggakan. Misalnya saja Ny. S. Pasaribu br. Silitonga, seorang soprano yang bagus, adalah istri L. Pasaribu, kepala sekolah SGA Kristen. Juga istri sang dirigen, Ny. S.D. Sinaga br. Situmorang, yang bernyanyi di bagian alto.

Sebagaimana dalam dunia kesenian lazimnya, dua matahari sulit bertemu di satu tempat. Di HKBP Jalan Gereja, selain St. A. Sinaga, tersua pemusik tangguh Gr. Saidi Siahaan yang memimpin ansambel tiup di jemaat tersebut. Begitu paduan suara ini bernyanyi beberapa kali dalam ibadah di HKBP Jalan Gereja, menurut Ny. Eline Simbolon br. Sinaga dan Ny. Donna Lumbantobing br. Sinaga (keduanya putri St. A. Sinaga), suasana menjadi kurang kondusif. Namun, suasana kompetititif ini berbuah baik: Koor Guru-guru ini seperti dibatasi bernyanyi di jemaatnya sendiri, tapi kemudian menjadi sering bernyanyi di berbagai jemaat HKBP yang ada di Pematangsiantar dan sekitarnya sehingga dikenal luas di seantero Pematangsiantar karena mutu bernyanyi mereka yang amat tinggi.

Menurut kesaksian beberapa orang yang berkebaktian di HKBP Jalan Gereja, Pematangsiantar maupun di HKBP Jalan Merpati, Pematangsiantar pada masa-masa itu, paduan suara ini memperlihatkan kelasnya sebagai paduan suara yang serius, serius membina kemampuan musikal anggotanya seperti membaca not dengan tepat, dan juga serius mengolah vokal anggotanya untuk bisa bernyanyi dengan baik dan betul dalam paduan suara.

Karya-karya yang mereka bawakan adalah klasik Barat. Beberapa nomor komposisi berasal dari The Messiah, Samson, Judas Maccabaeus dari komponis G.F. Handel (1685-1759); Weihnachtsoratorium dari J.S. Bach (1685-1750); Die Schopfung dan Die Jahreszeiten dari F.J. Haydn (1732-1809); beberapa motet dan missa W.A. Mozart (1756-1791); Missa Solemnis L. Beethoven (1770-1827); Paulus dan Elias F. Mendelssohn-Bartholdy (1809-1847); dan beberapa karya komponis seperti J.Heinrich Lutzel (1823-1899) dan R. Schumann (1810-1856).

Tahun 1963 adalah masa-masa pergolakan di HKBP yang berujung pada pendirian Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) pada 30 Agustus 1964. Sebagian dari guru-guru ini memilih bergabung dengan gereja yang baru, GKPI, antara lain L. Pasaribu (bersama istrinya, Ny. S. Pasaribu br. Silitonga), B. Simandjuntak, Hermin br. Lumbantobing, Kartina br. Sinaga, Alma br. Hutabarat, dan Kamaria br. Butar-butar dan Rouli br. Simorangkir. St. A. Sinaga juga memilih menjadi anggota GKPI.

Meskipun para anggotanya terbelah ke dua gereja, HKBP dan GKPI, pada awal-awal berdirinya GKPI mereka bertahan sebagai sebuah paduan suara. Namun, lama-kelamaan para guru yang HKBP memisahkan diri. Ini berarti jumlah anggotanya berkurang. Terjadilah rekrutmen. Paduan suara ini bersalin baju, dari para guru ke anggota gereja (GKPI), khususnya GKPI Jalan Simbolon, Pematangsiantar. Koor ini kemudian diberi nama Koor GKPI Jalan Simbolon. Maka bergabunglah antara lain St. E. Tandjoeng, Ny. J. Hutagalung br. Hutabarat (istri Ds. Dr. Sutan M. Hutagalung), Hinsa br. Lumbantobing, dan 30-an anggota Jemaat GKPI Jalan Simbolon lainnya.

Bergabungnya St. E. Tandjoeng yang mahir bermain organ dan fasih berbahasa asing (Belanda, Inggris, dan Jerman) serta berbakat lebat dalam bahasa Batak Toba sastra memberi warna khas pada Koor GKPI Jalan Simbolon, Pematangsiantar. Dia menjadi lirikus bagi penerjemahan karya-karya klasik Barat yang disebut di atas ke dalam bahasa Batak Toba. Kerja sama bahu-membahu antara St. A. Sinaga dan St. E. Tandjoeng dalam mengalihkan not-not balok ke not-not angka dan teks-teks berbahasa Jerman ke bahasa Batak Toba memungkinkan Koor GKPI Jalan Simbolon Pematangsiantar mengumandangkan karya-karya klasik Barat ini di gereja yang baru.

Karya-karya paduan suara klasik Barat dalam bahasa Batak Toba itu kemudian meluas diperdengarkan di kecamatan-kecamatan Tapanuli (Utara, Tengah, dan Selatan), kota-kota di Sumatra Utara seperti Medan, Pematangsiantar, Tebingtinggi, Tarutung, dan Sibolga dalam peresmian jemaat-jemaat GKPI di berbagai tempat yang tumbuh bagai jamur di musim hujan. Koor Jalan Simbolon Pematangsiantar menjadi duta bagi karya-karya paduan suara klasik barat di Tanah Batak, yang mereka kumandangkan dengan standar menyanyi yang amat tinggi, sekaligus tangan kanan bagi Bishop Ds. Dr. Andar M. Lumbantobing dan Sekjen Ds. Dr. Sutan M. Hutagalung dalam setiap peresmian jemaat baru GKPI.

Jemaat GKPI Jalan Simbolon pada tahun-tahun 1960-an sampai dengan akhir 1980-an merupakan saksi bahwa Koor Jalan Simbolon Pematangsiantar ini telah membawakan karya-karya klasik Barat secara a capella dengan mutu yang tak tertandingi, bukan hanya di tingkat Siantar, tetapi Indonesia. Seorang pengamat musik dari sebuah koran di Jakarta mendaku bahwa mutu berpaduan suara Koor GKPI Jalan Simbolon setingkat dengan mutu paduan-paduan suara profesional di Eropa.

Maka, bolehlah dibilang bahwa GKPI pernah menghasilkan terjemahan karya musik gereja—berupa pembataktobaan dua ratusan karya paduan suara klasik Barat dalam bahasa Batak Toba yang keindahannya tak tertandingi—kelas dunia sekaligus sebuah paduan suara bertaraf internasional justru pada 20 tahun pertamanya. Itulah Koor GKPI Jalan Simbolon Pematangsiantar. Hal yang semestinya tersurat dalam dokumen 50 Tahun GKPI (2014) dan dirayakan dalam Tahun Musik/Nyanyian Gereja GKPI (2015).

Pada tahun 1968 koor ini membukukan 69 karya paduan suara klasik Barat dalam Batak Toba di bawah judul Endehon ma Debata. Di sana tertulis bahwa buku ini merupakan susunan St. A. Sinaga selaku Editor Musik dan St. E. Tandjoeng selaku Lirikus. Tak kurang Bishop GKPI Ds. Dr. Andar Lumbantobing menulis Kata Pengantar yang kualitasnya luar biasa dalam bahasa Batak Toba yang tak tertandingi pula. Kira-kira (jadi tidak persis) begini tertulis di sana: Nihamauliatehon roha do usaha ni St. A. Sinaga dohot St. E. Tandjoeng na patariparhon not aslina tu not nomor jala hatana tu hata Batak angka ende koor-koor klasik na tongtong marsaringar sian abad tu abad di ganup bangso.

Di awal 1970an St. E. Tandjoeng dan istri berkesempatan berkeliling Eropa. Mereka membawa oleh-oleh dari sana berupa buku-buku koor yang dikenal baik di Eropa maupun Amerika tetapi kurang gaungnya di Indonesia dari para komponis yang disebut di atas, seperti Oratorium Salomo, Josua, Jubilate Utrceht dari G.F. Handel; beberapa kantata J.S. Bach; Requiem W.A. Mozart. Karya-karya dalam buku itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Batak Toba dan diterbitkan ke dalam beberapa buku kumpulan koor yang mereka sebut sebagai Repertorium. Paling tidak sekitar 75 nomor karya paduan suara yang dihasilkan kerja sama duet St. A. Sinaga dan St. E. Tandjoeng dalam delapan Repertorium itu.

Jadi, dengan buku Endehon ma Debata bersama kedelapan Repertorium tersebut, Koor GKPI Jalan Simbolon Pematangsiantar dari masa ke masa di bawah dirigen St. A. Sinaga, F.P. Lubis, S. Siahaan, dan L. Lumbantobing telah mengumandangkan 150-an lagu paduan suara karya komponis Eropa dari masa Barok, Klasik, sampai Romantik.

Koor ini juga menghasilkan dua rekaman kaset. Yang terdokumentasi dengan baik hanya satu, Koor GKPI Jalan Simbolon Pematangsiantar, keluaran Perusahaan Rekaman Mini (Medan) tahun 1978. Dengan delapan sopran (Ny. S. Pasaribu br. Silitonga, Ny. H. Panjaitan br. Lumbantobing, Ny. K. Silitonga br. Hutabarat, Ny. Pangaribuan br. Siregar, Ny. D. Hutabarat br. Sianipar, Gwyneth Norah Jones, Ny. S. Simatupang br. Napitupulu, Ny. Situmorang br. Hutabarat), empat alto (Nurkasma br. Panggabean, Eline br. Sinaga, Ny. H. Lumbantobing br. Sianipar, Zr. Christa Winter), dua tenor (F.P. Lubis dan Pangaribuan), dua bas (L. Pasaribu dan Pakpahan), dan dirigen St. A. Sinaga, Koor Jalan Simbolon mengabadikan suara mereka dalam 18 karya paduan suara (J.S. Bach, G.F. Handel, F.J. Haydn, W.A. Mozart, L Beethoven, dan F. Mendelssohn-Bartholdy).

Waktu mengalir. Anggota dan dirigen patah tumbuh hilang berganti. Sempat senyap sebentar, Koor GKPI Jalan Simbolon bersemangat kembali antara lain berkat Ny. J. Hutagalung br. Hutabarat sepulang dari Prancis. Dapat dicatat, bahwa hingga hari ini, tinggal beberapa saja anggota koor ini yang berasal dari Koor Guru-guru yang masih hidup: Ny. Hermin Panjaitan br. Lumbangobing (Pematangsiantar), Ny. Kartina Lumbantobing br. Sinaga (Sidikalang), dan Ny. Kamaria Tambunan br. Butar-butar (Tangerang). Beberapa anggota Koor GKPI Jalan Simbolon yang saat ini berada di luar Pematangsiantar antara lain St. E. Tandjoeng (Medan), Pdt. A. Lumbantobing (Binjai), Ny. H. Lumbantobing br. Simanungkalit (Binjai), Ny. L. Siahaan br. Tandjung (Medan), Ny. H. Lumbantobing br. Sianipar (Medan), Ny. Eline Simbolon br. Sinaga (Simbolon, Samosir), Ny. Nurkasma Lumbantobing br. Panggabean (Medan). Yang berada di Pematangsiantar antara lain Ny. Rouli Simanungkalit br. Simorangkir, Djuanda Lumbantobing, dan S. Siahaan.

Pada masa-masa sabas na mar-GKPI, 1960-an sampai dengan 1970-an, beberapa koor GKPI di Medan dan Tarutung membawakan lagu-lagu yang telah dibukukan Koor GKPI Jalan Simbolon Pematangsiantar, khususnya Endehon ma Debata, sebagai menu utama mereka dalam pelayanan di jemaat masing-masing. Dua jemaat GKPI, Saitnihuta di Tarutung (N. Nainggolan) dan Sidorame di Medan (James Hutabarat), ikut menyebarkan puji-pujian klasik Barat yang telah dibataktobakan oleh Koor GKPI Jalan Simbolon. Dalam lima belas tahun terakhir ini hanya dua paduan suara, Koor GKPI Jalan Simbolon Pematangsiantar dan Paduan Suara Conspirito GKPI Rawamangun Jakarta, yang setia mengumandangkan karya-karya abadi itu sebagai produk dari masa-masa puncak berkesenian kristiani di Eropa.

Terinspirasi dan merasa terharu oleh kesaksian St. E. Tandjoeng dalam Yubileum GKPI Jalan Simbolon pada tahun 2014 mengenai lintasan sejarah ringkas Koor GKPI Jalan Simbolon, Ev. Ganda Hutabarat, SSn dalam mempersiapkan Konser “SABAS NA MAR-TUHAN” yang berlangsung malam ini berkomitmen mengumandangkan beberapa karya paduan suara yang berasal dari perbendaharaan lagu-lagu yang telah dibukukan dan masih dibawakan Koor GKPI Jalan Simbolon.   Empat karya paduan suara itu berasal dari buku Endehon ma Debata, yaitu “Pararat ma BaritaMi” (F. Mendelssohn-Bartholdy), “O, Bagasnai Hamoraon ni Debata”(F. Mendelssohn-Bartholdy), “Na Mulia”(W.A. Mozart), dan “Sai Mangaranap Matangki”(J. Heinrich Lutzel).

“Pararat ma BaritaMi” dan “O, Bagasnai Hamoraon ni Debata” berasal dari Oratorium Paulus karya F. Mendelssohn-Bartholdy, oratorium yang mengisahkan kehidupan Rasul Paulus menurut Kisah Para Rasul Perjanjian Baru dengan sentuhan interpretasi komponis F. Mendelssohn-Bartholdy yang berasal dari tradisi Protestan yang kuat. Kedua komposisi ini ditulis dengan semangat zaman Romantik yang kuat, menekankan unsur dinamika dan harmoni dalam musik.

“Pararat ma Baritami” adalah terjemahan “Wie lieblich sind die Boten” yang mengumandangkan tentang pentingnya menyebarkan Kabar Baik Keselamatan. Dalam bahasa Jerman penekanan penyampaian Kabar Keselamatan itu dinyatakan dalam satu kalimat yang terus-menerus diulang dari bar ketiga sampai bar terakhir sehingga pengolahan dinamikanya harusbenar-benar digarap. Sementara dalam terjemahan Batak Tobanya, penekanan penyampaian Kabar Keselamatan itu bersifat naratif, dinyatakan dalam satu cerita dengan beberapa kalimat. Meskipun begitu, pengolahan dinamika tetap merupakan unsur terpenting, hanya saja dalam batak Toba ia harus disesuaikan dengan tiap gagasan yang terdapat dalam setiap kalimat yang berbeda.

“O, Bagasnai Hamoraon ni Debata” adalah terjemahan persis dari “O, welch eine Tiefe des Reichtum” sehingga pengolahan dinamikanya boleh dibilang serupa dalam kedua bahasa tersebut, mengandalkan sepersis-persisnya tanda yang terdapat dalam partitur.

“Na Mulia” merupakan terjemahan persis “Gloria in Excelsis” dalam Latin. Karya ini sebetulnya belum jelas diciptakan oleh siapa. Lama diklaim sebagai karya komponis terkenal W.A. Mozart sejak Penerbit Novello di Inggris menerbitkannya sebagai bagian dari kumpulan karya W.A. Mozart. “Missa Ke-12”. Padahal sebelumnya Simrock dari Bonn menerbitkannya sebagai satu dari tujuh manuskrip yang ia terima dari seorang guru musik bernama Carl Zulehner. Beberapa pakar musik percaya bahwa “Na Mulia” merupakan karya Zulehner. Ada pula beberapa versi mengenai asal-usul lagu ini.

“Na Mulia” merupakan pernyataan musik yang jelas mengenai pujian kepada Tuhan Yang Mahatinggi sehingga dalam menyanyikannya kapan keras dan kapan lembut harus jelas dan kontras pula.

St. A. Sinaga dan St. E. Tandjoeng dalam pengantar Endehon ma Debata (1968) menyebutkan bahwa buku itu selain ditujukan kepada anggota Koor GKPI Jalan Simbolon pada masa itu juga kepada mereka “na ro di pudian ni ari”. Semoga karya-karya abadi yang pernah dihasilkan GKPI itu tidak berhenti sampai dalam konser ini, tetapi terus-menerus dilanjutkan generasi masa kini dan masa mendatang.

PS-SKota-2

Paduan Suara GKPI Siantar Kota, yang dibina oleh Ev. Ganda Hutabarat, SSn, terbentuk pada bulan Mei 2015 dan sampai saat ini memiliki 45 orang anggota yang berasal dari jemaat GKPI Siantar Kota, dengan usia yang bervariasi antara 30 sampai 80 tahun. Disamping lagu tersebut di atas, dalam Konser “SABAS NA MAR-TUHAN” ini PS. GKPI Siantar Kota juga akan membawakan beberapa lagu rohani antara lain yang berasal dari Buku Ende dan lagu rohani lainnya.

Ganda Hutabarat

Ev. Ganda Hutabarat, SSn

Menurut Panitia Tahun Musik 2015 Jemaat Khusus GKPI Siantar Kota, harga tiket masuk untuk konser ini bervariasi antara Rp. 25.000 sampai dengan Rp. 100.000. Sebahagian hasil penjualan tiket ini akan disumbangkan untuk pembangunan GKPI Center yang ada di komplek Panti Asuhan Mamre, Pematangsiantar. Contact Person untuk pemesanan tiket ialah saudara Freddy Siagian (HP 085262390839) dan Benni Situmorang (HP 081376737773).

Pdt-SKota

Pdt. Th. Sitorus, MTh (Pendeta Resort GKPI Siantar Kota)

Save

Ibadah Syukuran Tahun Baru 2015 dan Launching Tahun Musik Gerejawi GKPI

1Sabtu, 10 Januari 2015, Ibadah Syukur Tahun Baru 2015 GKPI dan Launching Tahun Musik Gerejawi GKPI 2015 diadakan di rumah dinas Bishop GKPI Jalan Kapten MH Sitorus , Pematangsiantar.

Ketua Panitia Ibadah Syukur Tahun Baru GKPI 2015 Pdt Humala Lumbantobing mengharapkan ibadah syukur ini merupakan wadah persekutuan para pelayan GKPI dan untuk semakin mempererat hubungan dengan warga jemaat, pemerintah kota dan kabupaten dan lainnya. Serta mengharapkan untuk diberikan kekuatan agar bisa semakin meningkatkan pelayanan untuk memuliakan Tuhan. ov

Dalam ibadah ini Okuli Voice menjadi pemimpin pujian (song leader) dan yang menjadi Pelayan Firman ialah Bishop GKPI, Pdt Patut Sipahutar MTh.

2Dalam khotbahnya, Pdt Patut Sipahutar MTh menjelaskan bahwa manusia sekarang bisa dikategorikan hidup pada tiga masa.

Ada yang hidupnya pada masa lalu (dikuasai oleh ‘perut’), pada masa depan (dikuasai oleh ‘otak’) da nada yang hidup pada masa sekarang (mengandalkan hati).

Yang terbaik ialah yang hidup pada masa sekarang karena kita harus menyadari bahwa waktu itu sama seperti sungai yang mengalir, yang tidak pernah kembali lagi.

Untuk itulah kita diharapkan memanfaatkan kesempatan yang ada dan harus meresponnya dengan baik. Kita bersyukur karena bisa melewati tahun 2014 dan sekarang sudah masuk di tahun 2015. Waktu bukan pada catatan perjalanan (kronos) saja, namun harus melakukan apa yang harus kita lakukan dan memanfaatkan peluang (kairos).

Selain itu, di tengah-tengah zaman modern ini, manusia terbiasa dengan ungkapan “waktu adalah uang”, yang berarti sumber kehidupan masyarakat yang bersifat ekonomis. Nilai segala sebutan tersebut bertumpu pada uang, terutama pada zaman teknologi dan perdagangan yang global. Dalam dunia yang mengandalkan pasar bebas maupun virtual.

Kehidupan saat ini cenderung dinilai dengan uang.Cenderung menilai segala sesuatu dengan uang, komodisasi kehidupan. Namun dalam Matius 6:25 disebutkan, “Aku berkata kepadamu: “janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang akan kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pakaian?”.

Kita juga diharapkan untuk memahami hidup kita agar berarti dan bermakna sehingga bisa menjadi persembahan , serta hidup dengan hati agar bisa melihat orang-orang di sekitar kita.

3Selesai ibadah, dilanjutkan dengan pemukulan gong pertanda Launching Tahun Musik Gerejawi GKPI 2015 oleh Bishop GKPI Pdt Patut Sipahutar didampingi Sekjen GKPI Pdt Oloan Pasaribu MTh dan Ketua Panitia Ibadah Syukur Tahun Baru 2015, Pdt Humala Lumbantobing.

Hadir pada acara ini Ketua Urusan UMGKN-GKPI , Prof Mauly Purba PhD. Beliau mengungkapkan bahwa musik adalah sesuatu yang memainkan peran penting dalam kehidupan . Pengetahuan tersebut diperoleh baik langsung maupun tidak langsung . Musik diharapkan jadi media komunikasi, namun semuanya terletak pada fungsi dan tujuannya. Penyampaian musik hendaknya disertai kekuatan roh kudus.

Diharapkan dukungan dari pemimpin jemaat yang memiliki pengetahuan dan wawasan yang memadai sehingga program program pelayanan musik di gereja semakin berkualitas dan berkembang. Juga diharapkan peningkatan kualitas para pelayan.

4

Ibadah syukuran tahun baru ini juga dihadiri Bupati Simalungun DR JR Saragih SH MM, Bupati Samosir Mangindar Simbolon, Wakil Bupati Humbahas Marganti Manullang, Wali Kota Pematangsiantar diwakili Asisten I Leonardo Simanjuntak, Ketua PN Pematangsiantar Viktor Pakpahan SH MH, Sekjen GKPI Pdt Oloan Pasaribu MTh, Ketua Umum Yubileum 50 Tahun GKPI Ir GM Chandra Panggabean, Ketua Panitia Pelaksana Yubileum 50 Tahun GKPI Drs Kondarius Ambarita, Bendahara Pdt Salomo Simanjuntak, Ketua Panitia Pembangunan Monumen 50 GKPI Center Pnt Ir MRH Siahaan, Pdt Edwin Sianipar, para pendeta, warga jemaat GKPI dari beberapa daerah dan undangan lainnya .

Save