Nasib,… Oh Nasib

JG-Sormin oleh: James Ganda Sormin

Ringan, gampang, sepertinya tidak mempunyai masalah bagi orang-orang yang senantiasa mengucapkan kata-kata ini, seperti: “Nasib, betapa malangnya nasibku, sudah begini nasibku, nasib ini harus dirubah, nasib yang sudah dirundung malang dan sebagainya.

Bagi sebagian orang, kata-kata ini hanya sekedar pelampiasan emosi atau juga kekesalan seketika saat keletihan, lelah bahkan diakibatkan kegagalan dalam pekerjaan, rancangan-rancangan bahkan kegagalan meraih cita-cita dan juga hidup yang tidak bahagia, gagal dalam perkawinan, dan lain-lain.

Sungut-sungut, atau penulis lebih cenderung memakai istilah sekarang – ocehan (mengoceh) atau bersungut-sungut kepada kepada diri sendiri atau kesal kepada orang lain disebabkan kekesalan, artinya: “Seseorang itu mengoceh karena gagal meraih apa yang diinginkan hatinya.”

Tidak peduli dimanapun dan kapanpun manusia itu berada, ketika kegagalan itu dating, ocehan ini pun dengan ringan disebutkan. Suatu gaya hidup atau latah saja atau memang bentuk (sikap) kekesalan saja?

Manusia yang senantiasa mengoceh dengan kata sia-sia adalah manusia yang  tidak berpengharapan, yang menjurus hujatan dan mendukakan Roh Kudus. Disaat apa pun kita, Firman Tuhan mengatakan, “Biarlah mulut kita senantiasa mengucapkan puji-pujian kepada Tuhan.” Maz. 145 : 21

Bagaimana Firman Tuhan Menyikapinya

Tetapi Aku berkata kepadamu: setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman, karena menurut ucapanmu engkau dibenarkan dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” Mat. 12 : 36 – 37

Dalam catatan kami, kata “sia-sia” adalah kata-kata yang tidak bermakna dan tidak “berpengharapan”. Sementara, Tuhan Yesus datang ke dunia agar semua manusia harus berpengharapan, artinya tidak ada duka cita atau hati yang bersungut-sungut. Ini bisa kita buktikan melalui pengajaran-Nya dalam Firman-Nya:

  1. Akulah jalan dan kebenaran dan hidup…” Yoh. 14 : 6b
  2. Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu…” Mat. 11 : 28c
  3. Mintalah…akan diberikan, carilah…” Mat. 7 : 7

Dan yang paling berharga sekali bagi kita manusia, Firman-Nya: “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu…, bahkan Aku menyertaimu sampai akhir zaman.” Yoh. 14 : 18; Mat. 28 : 20

Ini adalah garansi yang ditawarkan oleh Yesus kepada umat-Nya. Pada umumnya garansi yang di bumi paling lama 2 sampai 5 tahun, tetapi garansi yang dari Dia memiliki jangka waktu yang luar biasa lamanya (sampai akhir zaman).

Dari pengajaran-pengajaran tersebut (melalui Firman-Nya), sebenarnya tidak ada lagi yang kurang bagi kita untuk melakukan aktivitas dalam kehidupan ini yang tidak digaransi Yesus. Oleh karena itu kita pun tidak seharusnya bersungut-sungut lagi dengan ucapan yang sia-sia seperti tersebut di atas.

Bagaimana Manusia Menyikapinya

Kita tahu bahwa setiap perkataan yang keluar dari mulut itu berasal dari hati, melalui alat perkataan yaitu lidah dan perkataan itu berkuasa, sehingga Firman Tuhan menyatakan tidak boleh dengan satu sumber (mulut) keluar berkat dan kutuk (Yak. 3 : 10). Artinya setiap perkataan yang keluar dari mulut itu sungguh terjadi. Oleh karena itu Firman Tuhan menyatakan dengan tegas agar kita jangan sembarangan mengucapkan kata-kata atau ucapan yang tidak bernilai (sia-sia) karena berakibat kutuk.

Mungkin anda masih ingat apa yang hendak dilakukan Bileam kepada bangsa Israel atas permintaan Balak, Raja Moab itu, agar Bileam mengutuk bangsa Israel (Bil. 22 : 6). Tetapi Firman Tuhan kepada Bileam, “Janganlah engkau pergi bersama-sama dengan mereka, janganlah engkau mengutuk bangsa itu, sebab mereka telah diberkati.” Bil. 22 : 12

Kemudian malaikat Tuhan menghempang Bileam agar jangan sampai mengeluarkan kata kutuk, kata sia-sia dari mulutnya, sebab kalau diucapkan maka jadilah (Bil. 22 : 23-24). Akan tetapi yang diijinkan Tuhan, “…tetapi hanyalah perkataan yang akan Kukatakan kepadamu harus kau katakan…” Bil. 22 : 35

Begitu Pentingkah Ucapan-Ucapan (Perkataan) Ini Bagi Tuhan?

Firman Tuhan, “…menurut ucapanmu engkau dibenarkan…

Musa dianggap Tuhan melecehkan-Nya, namun apa sebenarnya yang dilakukannya? Musa mencuri kemuliaan Tuhan.

Ketika Tuhan mengatakan, berbicaralah kepada bukit batu itu di depan mereka (bangsa Israel) supaya diberi airnya, demikianlah engkau mengeluarkan  air  dari bukit batu itu. Tetapi yang dilakukan Musa, “…apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” Bil. 20 : 7-10

Tentunya Musa dalam keadaan panik dan emosi dalam menghadapi sungut-sungut bangsa Israel ini sehingga ia menjadi lepas kontrol mengeluarkan kata-kata, seolah-olah atas kehendak Musalah air keluar dari batu itu. Ucapannya itu membuat Tuhan menjadi marah, sehingga menghukum Musa dan Harun, dengan tidak mengijinkan mereka membawa bangsa Israel ke negeri yang akan diberikan Tuhan kepada mereka. Bil. 20 : 12.

Mikhael sendiripun, yang kita kenal melalui Firman-Nya sebagai penghulu malaikat, ketika berselisih dengan iblis perihal mayat Musa tidak berani memakai kata-kata hujatan, namun menyerahkan persoalannya kepada Tuhan, dengan berkata, “Kiranya Tuhan menghardik engkau.” Yudas 1 : 9

Kalau penghulu malaikat saja tidak memakai kata sia-sia (hujatan) di dalam persoalannya, bagaimana dengan kita, yaitu kita yang mempunyai 1001 (seribu satu) persoalan ini?

Oleh karena itu, melalui tulisan ini, penulis hanya mengingatkan kepada pembaca agar berhati-hati mengucapkan kata-kata pada saat apapun, sebab apabila salah mengucapkan akan bisa mendukakan Roh Kudus dan tidak akan mendapatkan pengampunan selama-lamanya (Mrk. 3 : 29).

Firman Tuhan: “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut itulah yang menajiskan orang” Mat. 15 : 10-11. Firman ini diberikan kepada kita sebagai pengajaran (penekanan) bahwasanya kita manusia ini harus belajar untuk menghancurkan kebiasaan berbicara negatif yaitu kata sia-sia yang melahirkan kutuk-kutuk dalam hidup kita dan keluarga kita. Yang sebaiknya kita ucapkan hanyalah: “Mengucap syukur dalam segala hal, sebab itulah yang di kehendaki Allah dalam Yesus Kristus bagi kamu.” 1 Tes 5 : 18

Speak Your Mind

*