Kepada Saya – Melalui Saya

Ketika kita berdoa, pada umumnya kita selalu meminta segala hal yang berhubungan dengan kita. Ya Tuhan berkatilah saya, berikanlah kesehatan kepada keluarga saya, berikan lah rejeki kepada saya, berikanlah kesuksesan kepada saya dan masih banyak lagi permintaan lainnya.

Tetapi untuk apa semuanya itu? Seandainya Tuhan mengabulkan semua permintaan kita tadi, lalu apa yang akan kita lakukan?

Apakah kita mau menerima berkat saja (kepada saya), tetapi tidak mau membagikannya kepada orang lain (melalui saya)?

Kita tidak bisa hanya menjadi penerima berkat, namun kita juga harus menjadi saluran berkat (melalui saya). Ketika kita menerima berkat dari Tuhan, maka sepantasnya lah kita menyatakan kemuliaan Allah dengan menyalurkan berkat yang kita terima kepada orang yang sangat membutuhkan. Itulah yang dikehendaki Allah dari kita.

Sistem Akustik Yang Baik Untuk Gereja – Pentingkah?

Setelah melayani di ‘lumayan’ banyak gereja dari berbagai denominasi di Sumatera Utara, Okuli Voice Ministry menemukan bahwa pada umumnya perancangan sistem akustik yang baik belum menjadi perhatian atau prioritas bagi pendiri atau pengurus gereja.

Secara umum ruang ibadah di gereja dibangun seperti mendirikan bangunan biasa yang kurang memperhatikan aspek akustik, sehingga suara nyanyian dan kotbah bisa ber-gaung yang mengakibatkan sulit dimengerti apa sesungguhnya yang dinyanyikan atau dikotbahkan.

Kita tentu sepaham bahwa pada acara ibadah di gereja, ruang kebaktian adalah area khusus tempat pendeta, pemusik, paduan suara, dan jemaat untuk berkomunikasi, baik secara verbal, musikal dan emosional.

Pendeta mengkomunikasikan kotbahnya kepada jemaat, Worship leader berkomunikasi dengan para pemain musik dan mengajak jemaat bernyanyi dalam lagu-lagu pujian. Pemain musik mengkomunikasikan nada-nada suara dari instrument musik untuk secara simultan menambah pengalaman beribadah secara emosional, dan lain-lain.

Apabila akustik ruangan ibadah tidak baik, tentu ini akan sangat berpengaruh terhadap kualitas ibadah itu sendiri.

Jika kita bandingkan dengan Firman yang tertulis pada Roma 10 : 17 yang menyatakan bahwa iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran akan Firman Kristus, bagaimana jemaat akan bisa mendengar firman Tuhan dengan baik jika suara yang sampai di telinga mereka tidak jelas?

Memang biaya yang dibutuhkan untuk perancangan sistem akustik yang baik mungkin tidak murah, tetapi alasan sesungguhnya bukan itu. Pada kenyataannya masih banyak gereja yang lebih memprioritaskan tampilan semata. Misalnya, banyak gereja yang dinding ruangan ibadahnya dibuat dari keramik, sementara bahan ini cenderung memantulkan suara dan membuat bergaung.

Untuk itulah, kiranya para pendiri, pengurus atau pelayan di gereja-gereja dapat lebih memprioritaskan hal ini sehingga kualitas dari ibadah juga semakin meningkat dan pada akhirnya Firman Tuhan yang disampaikan melalui kotbah dan nyanyian dapat sampai ke jemaat dengan jelas.

 

 

 

Ayo Semangat – Go…Go…Go!

oleh: James Ganda Sormin

JG-SorminBegitu pentingkah semangat dalam hidup ini? Bagi olahragawan, semangat merupakan faktor yang sangat penting untuk bisa memenangkan suatu pertandingan atau kompetisi. Tanpa semangat juang yang tinggi, akan sulit rasanya untuk bisa memperoleh hasil maksimal.

Sering kita jumpai, misalnya dalam sebuah pertandingan sepak bola, jika kemampuan teknis dari kedua tim sama maka yang membedakan adalah semangat juang. Tim yang lebih bersemangat akan dapat memenangkan pertandingan tersebut. Dalam hal inilah nyata peran dari supporter atau pemberi semangat dalam sebuah pertandingan sepak bola maupun bidang olah raga lainnya. Bahkan kita melihat banyak sekali supporter klub sepak bola di Indonesia yang sudah memiliki organisasi legal dengan tujuan memberikan semangat ketika tim kesayangannya bertanding.

Apakah semangat hanya dibutuhkan dalam bidang olah raga? Tidak, tentunya. Dalam keseharian kita sangat memerlukan semangat untuk menjalani hidup. Tidaklah mengherankan mengapa banyak sekali kita jumpai buku tentang motivasi atau membangkitkan semangat di toko-toko buku dan pada umumnya merupakan buku terlaris. Demikian juga dengan seminar-seminar tentang bagaimana melalui hidup dengan semangat.

Mengapa kita perlu semangat?

Jika perjalanan hidup kita lancar-lancar saja, mungkin kata “semangat” tidak memiliki arti apa-apa sebab kita tidak membutuhkannya. Namun kita tahu bahwa Tuhan tidak menjanjikan langit akan selalu biru tanpa awan gelombang, siang tanpa malam. Tuhan juga tidak menjanjikan perjalanan yang indah tanpa tantangan. Tetapi Tuhan menjanjikan akan memberi kekuatan, dalam hal ini merupakan semangat untuk melampaui segala pergumulan hidup yang pasti kita alami.

Oleh karena itu, semangat baru sangat berarti apabila kita dalam pergumulan hidup, pencobaan atau bahkan penderitaan. Dengan semangat orang dapat menanggung penderitaan; hilang kemauan itu, hilang juga segala harapan. Dalam kitab Ams. 18:14 dikatakan, “Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?”

Dari manakah kita memperoleh semangat?

Sebagai umat Tuhan, kita harus percaya bahwa Allah sendiri yang memberikan semangat kepada kita, seperti yang tertulis dalam kitab Yes. 40:29, “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.”

Terlebih lagi, Tuhan kita Yesus Kristus akan meminta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepada kita seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kita selama-lamanya. (Yoh.14:16)

Penolong yang dimaksud dalam hal ini ialah Roh Kebenaran, yaitu Roh Allah yang akan menyatakan kebenaran tentang Allah.

Oleh karena itu, meskipun kita mengalami penderitaan atau pencobaan, kita akan bisa melaluinya dengan tetap bersemangat. Pada akhirnya, kita akan dapat memahami bahwa semangat adalah kemampuan dari kita untuk melihat kenyataan-kenyataan dan merasakan suatu permasalahan adalah indah serta menganggap sakit dan kekurangan adalah untuk membuktikan apakah kita sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan atau tidak.

Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.” (1Ptr.1:6-7)

Iblis Adalah Satu-Satunya Oknum Yang Merasa Keberatan Atas Kematian Tuhan Yesus

oleh: James Ganda Sormin

JG-SorminTentang hal kematian-Nya, Yesus tidak pernah menutup-nutupi, bahkan Ia berterus terang bahwa akan tiba saatnya Ia akan mati. Namun, ada oknum yang tidak senang bahkan sangat keberatan dengan kematian-Nya yaitu Iblis.

Mengapa bisa demikian? Kita bisa melihat apa yang dilakukan Iblis melalui Petrus pada saat Yesus memberitahukan kepada orang banyak tentang penderitaan-Nya.

Mrk. 8 : 31-32

“Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.

Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia.”

Disini Iblis memakai Petrus untuk menyatakan keberatannya atas keterus-terangan Yesus akan kematian-Nya. Mengapa Petrus? Mungkin karena Petrus adalah salah seorang murid yang special.

Memang, Iblis selalu memakai sesuatu yang spesial dalam mencapai tujuannya. Dalam kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa, Iblis juga memakai makhluk yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh Tuhan Allah, yaitu ular, untuk menggoda manusia. Hasilnya, manusia itu pun jatuh ke dalam dosa.

Dengan usahanya ini kita tahu bahwa Iblis sering berhasil dalam usahanya dan hasil karyanya dapat kita lihat pada kitab Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.

Namun apakah Iblis berhasil menghentikan Yesus untuk tidak berterus terang tentang hal kematian-Nya? Selanjutnya kita tahu apa yang dilakukan Yesus pada Petrus dimana Ia menegor murid-Nya itu dengan keras, kata-Nya,”Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mrk. 8 : 33). Yesus tahu apa maksud Iblis melalui Petrus dan Ia tidak akan dapat dikalahkan oleh Iblis.

Mengapa Iblis begitu takut akan kematian Yesus?

Iblis tahu bahwa Yesus datang ke dunia ini dengan tujuan untuk menyelamatkan manusia ciptaan Allah yang telah jatuh ke dalam dosa akibat godaan Iblis. Dan Iblis tahu bahwa satu-satunya jalan untuk mendamaikan manusia dengan Allah adalah dengan mengalahkan dunia (Iblis) melalui kematian Yesus di kayu salib, dimana Yesus dimuliakan.

Yoh. 16 : 33,”Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.

Kol. 2:14-15:

Dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib:

Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka.

Arti kebangkitan Tuhan Yesus

Iblis juga sangat takut akan kebangkitan Yesus pada hari yang ketiga seperti yang diberitahukan Yesus kepada murid-murid-Nya. Jika Yesus bangkit, semakin nyatalah kekalahan Iblis sebab Yesus akan menjadi Pembela bagi manusia.

Rom. 8:34:

Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?

Juga melalui kebangkitan Yesus, manusia menjadi pemenang, seperti yang tertulis dalam kitab Rom. 8:37, “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.

Selanjutnya, melalui kebangkitan Yesus, manusia akan sungguh-sungguh menjadi manusia yang merdeka dari perbudakan si Iblis.

Gal. 5:1,

Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.

Melalui kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus, manusia telah benar-benar disembuhkan dari penyakit parah yang disebut dosa.

Yes 53:5,

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

1Ptr 2:24,

Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.”

Juga melalui kematian dan kebangkitan Yesus, manusia telah dikuduskan sekali untuk selama-lamanya.

Ibr. 10:10,

Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.

Hal inilah yang sangat tidak disukai oleh si Iblis sehingga dia sangat keberatan atas kematian Tuhan Yesus, sebab dia tahu bahwa dia akan dikalahkan melalui kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya pada hari yang ketiga.

Melalui kematian dan kebangkitan Yesus, kita manusia kembali berdamai dengan Allah sehingga kita layak memperoleh keselamatan kita kembali, yang telah dicuri oleh si Iblis.

Oleh karena itu, kita sebagai umat Tuhan harus senantiasa bersyukur akan kebaikan Allah yang telah mengorbankan Anak Tunggal-Nya supaya kita yang percaya kepada-Nya beroleh selamat.

Kita juga tidak boleh lagi gelisah dan gentar hati sebab Yesus berpesan:

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu”. (Yoh. 14:27)

Nasib,… Oh Nasib

JG-Sormin oleh: James Ganda Sormin

Ringan, gampang, sepertinya tidak mempunyai masalah bagi orang-orang yang senantiasa mengucapkan kata-kata ini, seperti: “Nasib, betapa malangnya nasibku, sudah begini nasibku, nasib ini harus dirubah, nasib yang sudah dirundung malang dan sebagainya.

Bagi sebagian orang, kata-kata ini hanya sekedar pelampiasan emosi atau juga kekesalan seketika saat keletihan, lelah bahkan diakibatkan kegagalan dalam pekerjaan, rancangan-rancangan bahkan kegagalan meraih cita-cita dan juga hidup yang tidak bahagia, gagal dalam perkawinan, dan lain-lain.

Sungut-sungut, atau penulis lebih cenderung memakai istilah sekarang – ocehan (mengoceh) atau bersungut-sungut kepada kepada diri sendiri atau kesal kepada orang lain disebabkan kekesalan, artinya: “Seseorang itu mengoceh karena gagal meraih apa yang diinginkan hatinya.”

Tidak peduli dimanapun dan kapanpun manusia itu berada, ketika kegagalan itu dating, ocehan ini pun dengan ringan disebutkan. Suatu gaya hidup atau latah saja atau memang bentuk (sikap) kekesalan saja?

Manusia yang senantiasa mengoceh dengan kata sia-sia adalah manusia yang  tidak berpengharapan, yang menjurus hujatan dan mendukakan Roh Kudus. Disaat apa pun kita, Firman Tuhan mengatakan, “Biarlah mulut kita senantiasa mengucapkan puji-pujian kepada Tuhan.” Maz. 145 : 21

Bagaimana Firman Tuhan Menyikapinya

Tetapi Aku berkata kepadamu: setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman, karena menurut ucapanmu engkau dibenarkan dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” Mat. 12 : 36 – 37

Dalam catatan kami, kata “sia-sia” adalah kata-kata yang tidak bermakna dan tidak “berpengharapan”. Sementara, Tuhan Yesus datang ke dunia agar semua manusia harus berpengharapan, artinya tidak ada duka cita atau hati yang bersungut-sungut. Ini bisa kita buktikan melalui pengajaran-Nya dalam Firman-Nya:

  1. Akulah jalan dan kebenaran dan hidup…” Yoh. 14 : 6b
  2. Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu…” Mat. 11 : 28c
  3. Mintalah…akan diberikan, carilah…” Mat. 7 : 7

Dan yang paling berharga sekali bagi kita manusia, Firman-Nya: “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu…, bahkan Aku menyertaimu sampai akhir zaman.” Yoh. 14 : 18; Mat. 28 : 20

Ini adalah garansi yang ditawarkan oleh Yesus kepada umat-Nya. Pada umumnya garansi yang di bumi paling lama 2 sampai 5 tahun, tetapi garansi yang dari Dia memiliki jangka waktu yang luar biasa lamanya (sampai akhir zaman).

Dari pengajaran-pengajaran tersebut (melalui Firman-Nya), sebenarnya tidak ada lagi yang kurang bagi kita untuk melakukan aktivitas dalam kehidupan ini yang tidak digaransi Yesus. Oleh karena itu kita pun tidak seharusnya bersungut-sungut lagi dengan ucapan yang sia-sia seperti tersebut di atas.

Bagaimana Manusia Menyikapinya

Kita tahu bahwa setiap perkataan yang keluar dari mulut itu berasal dari hati, melalui alat perkataan yaitu lidah dan perkataan itu berkuasa, sehingga Firman Tuhan menyatakan tidak boleh dengan satu sumber (mulut) keluar berkat dan kutuk (Yak. 3 : 10). Artinya setiap perkataan yang keluar dari mulut itu sungguh terjadi. Oleh karena itu Firman Tuhan menyatakan dengan tegas agar kita jangan sembarangan mengucapkan kata-kata atau ucapan yang tidak bernilai (sia-sia) karena berakibat kutuk.

Mungkin anda masih ingat apa yang hendak dilakukan Bileam kepada bangsa Israel atas permintaan Balak, Raja Moab itu, agar Bileam mengutuk bangsa Israel (Bil. 22 : 6). Tetapi Firman Tuhan kepada Bileam, “Janganlah engkau pergi bersama-sama dengan mereka, janganlah engkau mengutuk bangsa itu, sebab mereka telah diberkati.” Bil. 22 : 12

Kemudian malaikat Tuhan menghempang Bileam agar jangan sampai mengeluarkan kata kutuk, kata sia-sia dari mulutnya, sebab kalau diucapkan maka jadilah (Bil. 22 : 23-24). Akan tetapi yang diijinkan Tuhan, “…tetapi hanyalah perkataan yang akan Kukatakan kepadamu harus kau katakan…” Bil. 22 : 35

Begitu Pentingkah Ucapan-Ucapan (Perkataan) Ini Bagi Tuhan?

Firman Tuhan, “…menurut ucapanmu engkau dibenarkan…

Musa dianggap Tuhan melecehkan-Nya, namun apa sebenarnya yang dilakukannya? Musa mencuri kemuliaan Tuhan.

Ketika Tuhan mengatakan, berbicaralah kepada bukit batu itu di depan mereka (bangsa Israel) supaya diberi airnya, demikianlah engkau mengeluarkan  air  dari bukit batu itu. Tetapi yang dilakukan Musa, “…apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” Bil. 20 : 7-10

Tentunya Musa dalam keadaan panik dan emosi dalam menghadapi sungut-sungut bangsa Israel ini sehingga ia menjadi lepas kontrol mengeluarkan kata-kata, seolah-olah atas kehendak Musalah air keluar dari batu itu. Ucapannya itu membuat Tuhan menjadi marah, sehingga menghukum Musa dan Harun, dengan tidak mengijinkan mereka membawa bangsa Israel ke negeri yang akan diberikan Tuhan kepada mereka. Bil. 20 : 12.

Mikhael sendiripun, yang kita kenal melalui Firman-Nya sebagai penghulu malaikat, ketika berselisih dengan iblis perihal mayat Musa tidak berani memakai kata-kata hujatan, namun menyerahkan persoalannya kepada Tuhan, dengan berkata, “Kiranya Tuhan menghardik engkau.” Yudas 1 : 9

Kalau penghulu malaikat saja tidak memakai kata sia-sia (hujatan) di dalam persoalannya, bagaimana dengan kita, yaitu kita yang mempunyai 1001 (seribu satu) persoalan ini?

Oleh karena itu, melalui tulisan ini, penulis hanya mengingatkan kepada pembaca agar berhati-hati mengucapkan kata-kata pada saat apapun, sebab apabila salah mengucapkan akan bisa mendukakan Roh Kudus dan tidak akan mendapatkan pengampunan selama-lamanya (Mrk. 3 : 29).

Firman Tuhan: “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut itulah yang menajiskan orang” Mat. 15 : 10-11. Firman ini diberikan kepada kita sebagai pengajaran (penekanan) bahwasanya kita manusia ini harus belajar untuk menghancurkan kebiasaan berbicara negatif yaitu kata sia-sia yang melahirkan kutuk-kutuk dalam hidup kita dan keluarga kita. Yang sebaiknya kita ucapkan hanyalah: “Mengucap syukur dalam segala hal, sebab itulah yang di kehendaki Allah dalam Yesus Kristus bagi kamu.” 1 Tes 5 : 18