Cara Berkhotbah Yang Efektif

Menjadi pengkhotbah adalah pekerjaan yang mulia sekaligus merupakan tugas yang berat. Khotbah memiliki aspek urapan dan aspek teknis. Berbicara tentang aspek urapan biarlah itu menjadi bagian Tuhan dan bagian yang bisa kita pelajari adalah aspek teknis. Jadi bagaimana cara berkhotbah yang baik?

Jawaban untuk pertanyaan di atas tidaklah mudah sebab pada prinsipnya berkhotbah adalah sebuah seni. Dalam 1 Tesalonika 1 : 5 disebutkan  “Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu.

Dalam hal ini tidak bisa dipisahkan antara “khotbah” dengan “orang yang berkhotbah atau si pengkhotbah.” Sebuah khotbah, sebagus apapun kata-katanya, jika bukan Roh Kudus yang bekerja pada si pengkhotbah, maka khotbahnya tidak akan memiliki kuasa. Hal ini dapat diperoleh jika orang yang berkhotbah mau dipimpin oleh Roh Kudus dalam kehidupan kesehariannya.

Meminjam istilah dari Alex Nanlohy, ada 3 jenis khotbah yang terkenal saat ini yaitu:

  1. Khotbah Topikal, yaitu khotbah dengan suatu topik khusus. Setelah memilih satu topic, kemudian menyusun sub-sub tema yang dilengkapi dengan data-data pendukung. Akhirnya dipresentasikan secara berurutan. (Lukas Tjandra)
  2. Khotbah Tekstual, yaitu suatu khotbah yang bagian-bagian utamanya diperoleh dari satu teks yang terdiri atas suatu bagian Alkitab yang pendek. Setiap bagian ini dipakai sebagai suatu garis saran dan teks memberikan tema khotbah itu. (James Braga)
  3. Khotbah Ekspositori, suatu khotbah dimana suatu bagian Alkitab yang pendek atau panjang diartikan dalam hubungan dengan tema atau pokok. Bagian terbesar materi khotbah diambil langsung dari nas Alkitab tersebut dan kerangkanya terdiri dari serangkaian ide yang diuraikan secara bertahap dan berpangkal pada suatu ide utama. . (James Braga)

Ketiga jenis khotbah diatas adalah sah. Tetapi setiap jenis mempunyai plus minus masing-masing. Sehingga biasanya masing-masing pengkhotbah memilih untuk menjadi expert dalam salah satunya. Mana yang anda pilih adalah sah, namun yang terpenting Firman Tuhanlah yang diberitakan.

Untuk pengkhotbah pemula disarankan untuk menuliskan khotbahnya kalimat demi kalimat sehingga pada saat kejadian tak terduga terjadi, misalnya ‘hang’, maka kita dapat melihat catatan kita untuk melanjutkan khotbah. Dengan demikian kita tidak kelihatan bengong di depan jemaat.

Khotbah bisa dibagi menjadi pembukaan, isi dan penutup. Secara teknis, selain menguasai kemampuan Verbal, seorang pengkhotbah juga disarankan untuk mempelajari Non Verbal Communication. Misalnya, suara yang ‘cempreng’ bisa dilatih supaya lebih enak didengar oleh jemaat. Begitu juga dengan body language bisa mempengaruhi sikap jemaat yang mendengar khotbah. Body language bisa dilatih dahulu sebelum menyampaikan khotbah.

Akhirnya, berkhotbah secara teknis dapat dipelajari sehingga lebih mudah dipahami jemaat dan yang terpenting orang yang telah memilih untuk menjadi pengkhotbah harus mau dipimpin oleh Roh Kudus dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply