Jangan Kuatir

JANGAN KUATIR

Cipt.: Drs. Bonar Gultom
Siapakah di antara kamu, 
yang kar’na rasa kuatirnya
Dapat menambahkan, 
satu hasta saja, 
kepada jalan hidupnya
Ya... siapakah diantara kamu, 
yang karna rasa kuatirnya
dapat menambahkan, 
satu hasta saja, 
kepada jalan hidupnya
Dan jika engkau tiada daya, 
membuat hal paling kecil
mengapa kah engkau kuatir, 
mengapa kuatir, perkara yang besar
mengapa kuatir, perkara yang besar
Lihatlah burung gagak kecil, 
tiada menabur, tiada menuai
tidak juga mengumpulkan bekal 
di dalam lumbung untuk hari esok
tetapi dia tak kurang suatu apa, 
diberi makan Bapa mu yang di sorga
tetapi dia tak kurang suatu apapun, 
diberi makan Bapa mu yang Akbar
Pandanglah bunga bakung di lembah, 
tiada bertenun tiada memintal
bunga bakung yang putih dan bersih, 
tiada bertenun tiada memintal
tetapi dia ternyata lebih indah, 
dari Salomo dalam kemegahannya
tetapi dia ternyata lebih indah pun 
dari Salomo Raja yang besar
Dan jika Tuhan Allah, 
mendandani rumput di ladang
dan memb’ri makan makhluk yang kecil,
memberi makan ciptaanNya yang kecil
tidak kah Dia kan terlebih lagi, 
memberi padamu s’gala yang perlu
memberi kebutuhanmu, 
wahai orang yang kurang percaya
Jangan kuatir, janganlah ragu
karena Tuhan mu sayang padamu
Ya... karena Tuhan mu kasih
kepadamu

Lebih Putih dari Salju

Cipt: James Ganda Sormin

Kasihilah aku ya Allahku
Menurut kasih setia-Mu
Hapuskanlah pelanggaranku
Menurut rahmat-Mu yang besar

Bersihkanlah aku dari salahku
Menurut kasih setia-Mu
Dan tahirkan lah hidupku
Dari dosaku

Reff. Jadikanlah hatiku
Menjadi tahir ya Allah
Dan perbaharuilah hatiku
Dengan roh yang teguh

Sucikanlah aku dari dosaku
Bersihkan ku dengan hisop
Agar menjadi lebih putih
Putih dari salju,
Putih dari salju

Ndada Au Guru Di Au – BE 476

Ndada au guru di au be, Jesus do nampuna au
Las rohangku dung hubege, Jesus si pangolu au
Ndang be au guru di au, Jesus na humophop au nampuna au
Tung saleleng au mangolu, Jesus do nampuna au
Ndang di au di Tuhan Jesus, daging dohot rohangki
Saluhut na hupasahat, tu Ho Jesus Tuhanki
Ndang be au guru di au, Jesus na humophop au nampuna au
Tung saleleng au mangolu, Jesus do nampuna au
Ulaonku nang artangku, pangke ma baen sangapMi
Diusehon Ho mudarMu, tung tanda do holongMi
Ndang au be au guru di au, Jesus na humophop au nampuna au
Tung saleleng au mangolu, Jesus do nampuna au

Penyegaran Iman di GKPI Tebing Tinggi Kota

Penatua, Jemaat dan Pendeta GKPI Tebing Tinggi Kota bersama Okuli Voice Ministry

Selama dua hari berturut-turut dari tanggal 28 sampai dengan 29 Juli 2012 Okuli Voice Ministry mengadakan Kebaktian Penyegaran Iman bersama jemaat Tuhan di GKPI Tebing Tinggi Kota. Pada kesempatan ini juga dilaksanakan ‘pembekalan singkat’ terhadap penatua dan calon penatua di gereja tersebut.

Pembekalan Penatua dan Calon Penatua

Pada hari Sabtu, tanggal 28 Juli 2012 Okuli Voice Ministry mengadakan acara ‘pembekalan singkat’ terhadap

penatua dan calon penatua di GKPI Tebing Tinggi Kota. Acara yang dimulai dari jam 10.00 WIB ini diawali dengan ibadah dan berlangsung dengan penuh hikmat serta dihadiri oleh kurang lebih 50 orang penatua dan calon penatua termasuk beberapa orang anggota jemaat di gereja ini.

Selesai ibadah, acara dilanjutkan dengan sesi pertama dengan topik “Manajemen Perilaku dan Situasi” yang dibawakan oleh rekan se-pelayanan Okuli Voice Ministry yaitu  Pontas M. Pardede, Drs, MSc, MBA.

Pontas

Pontas M. Pardede saat menyampaikan materi Pembekalan Penatua

Nara sumber, yang juga adalah seorang dosen di Universitas HKBP Nomensen, memulai sesi ini dengan memaparkan fakta yang terjadi akhir-akhir ini dalam hal pelayanan gereja-gereja di Indonesia. Beliau menyampaikan fakta bahwa di Indonesia ada banyak sekali gereja, dimana gereja Kristen protestan adalah gereja yang ‘diperbaharui’.

Sadar atau tidak, gereja sekarang ini adalah suatu organisasi yang bersaing antara satu dengan yang lain dalam hal pelayanan dan juga ‘perekrutan’ anggota jemaat. Mungkin satu gereja tidak menganggap yang lain sebagai saingan, tetapi gereja lain tersebut mengangapnya sebagai saingan.

Bahkan, ada ‘saingan’ yang mungkin tidak diperhitungkan oleh para hamba Tuhan yaitu anggota jemaatnya yang memilih untuk tidak datang beribadah ke gereja manapun. Dalam hal ini anggota jemaat suatu gereja tidak lagi mau bersekutu dengan jemaat Tuhan lainnya dengan alasan tertentu, misalnya lebih memilih menonton pertandingan tinju dari pada datang ke gereja.

Ini adalah fakta yang terjadi akhir-akhir ini. Pelayanan berjalan terus, kotbah tetap dikumandangkan, tetapi mengapa jumlah orang yang datang ke gereja semakin sedikit? Semestinya, para hamba Tuhan termasuk penatua harus menganggap ini sebagai masalah yang harus diatasi. Mungkinkah ada yang salah dengan pelayanan kita?

Menjadi penatua atau penilik jemaat adalah pekerjaan indah dimana tugasnya adalah memberitakan jalan keselamatan kepada jemaat yang digembalakannya dengan harapan semua jemaat memperoleh keselamatan. Namun pekerjaan ini juga menuntut penatua untuk dapat memenuhi beberapa syarat untuk layak menjadi penatua. (lih. 1Tim. 3 : 1 – 7 dan 1Tim. 5 : 17 – 25)

Salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah harus cakap mengajar orang (1Tim. 3 : 2). Dalam hal ini penatua harus menguasai pekerjaannya dan mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik sehingga apa yang disampaikannya (dikotbahkan) dapat diterima jemaat sesuai dengan maksudnya.

Bisa saja masalah seperti di atas muncul akibat tidak sampainya pesan yang dimaksudkan oleh para hamba Tuhan (penatua) terhadap jemaatnya, akibat cara berkomunikasi yang buruk, sehingga iman jemaat tidak bertumbuh. Di sinilah diperlukan pengetahuan tentang manajemen perilaku dan situasi.

Manajemen situasi berarti bagaimana situasinya dapat kita sesuaikan dan manajemen perilaku dapat diartikan suatu perilaku yang dimulai dari kita lebih dulu.

Sebagai bapa atau ibu rohani, seorang penatua harus dapat menempatkan diri di antara jemaat yang digembalakannya. Dengan berbagai latar belakang dan pribadi yang berbeda-beda, seorang penatua harus mengenal betul jemaatnya sehingga dia dapat memilih cara yang paling baik untuk ‘melayaninya’ sehingga apa yang menjadi tujuannya, yaitu menyelamatkan sebanyak mungkin jiwa, dapat tercapai.

Sesi kedua pada pembekalan penatua dan calon penatua ini membahas topik “Firman Tuhan – Sebagai Motivator Sekaligus Sebagai Motivasi” yang disampaikan oleh Bpk. J. Ganda Sormin (Anggota Majelis Pusat GKPI dan Pembina Okuli Voice Ministry).

JG-Sormin-1

J. Ganda Sormin saat menyampaikan materi Pembekalan Penatua

Pembicara memulai sesi ini dengan menyampaikan alasan mengapa dirasa perlu untuk mendiskusikan topik ini dengan para penatua dan calon penatua di GKPI Tebing Tinggi Kota meskipun beliau yakin mereka sudah sering membaca firman Tuhan yang terdapat pada Alkitab.

Sebagai bapak/ibu rohani, penatua perlu mempunyai pengetahuan atau wawasan yang mendalam akan firman Tuhan, sehingga apabila ada jemaat yang datang bertanya kepadanya tentang firman Tuhan yang belum diketahui, maka sebagai bapak/ibu rohani dia mampu menjelaskannya dengan baik.

Sebagai motivator, Firman Tuhan adalah sebagai subyek (maksudnya orangnya). Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. (Yoh. 1: 1)

Sedangkan sebagai motivasi artinya firman Tuhan menjadi sumber keyakinan (motivasi) bagi hamba-hamba-Nya untuk tetap memberitakan Dia, sebab Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. (lih. Rom. 1 : 16) Sebab iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. (Rom. 10 :17)

Firman Tuhan menjadi motivasi bagi kita untuk mengenal Dia lebih dalam lagi. Dengan lebih sering membaca firman-Nya, kita akan semakin mengerti apa kehendak Allah dalam hidup kita. Firman mengajarkan kita untuk mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati dan juga mengasihi sesama manusia. (Mat. 22 : 37 – 39)

Firman Tuhan juga dituliskan untuk menjadi pelajaran bagi kita supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci (Rom. 15 : 4). Bahkan, jika kita ingin mencari kebahagiaan maka Firman Tuhan adalah jawabnya (Luk. 11 : 28).

Pada kesempatan kali ini, Bpk. J. Ganda Sormin sharing banyak lagi Firman Tuhan yang bisa memotivasi para penatua untuk dapat melayani lebih sungguh lagi. Ketika ada diantara anggota jemaat yang datang meminta saran atau solusi atas permasalahan yang dihadapi, maka diharapkan penatua dapat menjawabnya dengan menggunakan firman Tuhan.

Kebaktian Minggu dan Penyegaran Iman

Pada esok harinya, Minggu tanggal 29 Juli 2012, Okuli Voice Ministry menjadi pelayan musik dan song leader pada ibadah Minggu. Pelayanan kotbah disampaikan oleh Pdt. Salomo Simanjuntak, STh (Ka. Biro IV pada Kantor Pusat GKPI).

Pdt-Salomo Simanjuntak

Pdt. Salomo Simanjuntak, STh pada Ibadah Minggu

Dalam kotbahnya, yang didasarkan pada 2 Raj. 4 : 42 – 44, pendeta mengajak jemaat untuk meneladani Elisa yang tidak mementingkan diri sendiri melainkan sangat peduli dengan orang lain.

Ketika Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk menikmati berkat-Nya, maka alangkah baiknya jika kita juga mau membagikannya kepada orang yang kekurangan. Di saat kita berbagi kasih dengan sesama, maka kasih Allah akan semakin nyata dalam kita.

Selesai acara kebaktian, dilanjutkan dengan Penyegaran Iman yang dipimpin oleh Bpk. J. Ganda Sormin. Jika pada hari sebelumnya diadakan Penyegaran Iman sekaligus pembekalan singkat terhadap penatua dan calon penatua, maka pada hari ini Penyegaran Iman diikuti oleh anggota jemaat yang mengikuti kebaktian Minggu berjumlah kurang lebih 200 orang.

Pada acara kali ini, topik yang dibahas adalah tentang “Seruan Yang Benar dan Mengerti Firman Tuhan Dengan Benar”. Bpk. J.G. Sormin mengambil contoh tentang kelakuan bangsa Israel yang mengecewakan Allah seperti tertulis pada Hos. 7 : 14, “Seruan mereka kepada-Ku tidak keluar dari hatinya, tetapi mereka meratap di pembaringan mereka. Mereka menoreh-noreh diri karena gandum dan anggur, dan mereka berontak terhadap Aku.”

JG-Sormin-Minggu

Kebaktian Penyegaran Iman bersama jemaat GKPI Tebing Tinggi Kota

Ketika semuanya berjalan lancar dan kita diberi rezeki oleh Tuhan, maka kita sering lupa berseru kepada-Nya karena sibuk menghitung-hitung harta kita (menoreh-noreh diri). Makanya, menurut beliau, ada baiknya kita sesekali masuk rumah sakit. Karena apabila orang masuk ke sana karena sakit, dia cenderung lebih berserah dan berseru secara sungguh-sungguh kepada Tuhan. Dia juga akan melupakan hartanya karena dia pikir dia akan mati. Seperti yang dialami sendiri oleh pembicara, dimana beliau pernah terbaring di rumah sakit selama beberapa minggu akibat sakit yang dideritannya. Di sana beliau berseru kepada Tuhan supaya Ia memberinya kekuatan untuk menanggung sakitnya. Tuhan menjawab seruannya, bahkan lebih lagi, Tuhan memberi kesembuhan kepada Bpk. J. G. Sormin. Puji Tuhan!

Tuhan Allah sangat menginginkan kita berseru kepada-Nya dan Ia akan menjawab kita, dan akan memberitahukan kepada kita hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami (Yer. 33 : 3). Inilah janji Allah yang boleh kita pegang asalkan kita berseru kepada-Nya dengan benar, yaitu seruan yang keluar dari hati.

Akan halnya mengerti firman Tuhan dengan benar, ini berhubungan dengan fakta bahwa meskipun kita membaca firman Tuhan ratusan kali, mungkin kita tidak mengerti maksudnya karena pikiran kita masih ditutupi oleh selubung. Bahkan, ada contoh ketika murid Yesus sendiri tidak mengenal Dia yang telah bangkit dari kematian, karena ada sesuatu yang menghalangi mata mereka. (lih. Luk. 24 : 13 – 17)

Siapakah yang dapat menyingkapkan selubung itu? Jawabnya hanya Yesus Kristus (2 Kor. 3 : 14-15). Apakah syaratnya supaya Yesus meyingkapkannya? Syaratnya adalah seperti yang tertulis pada 2 Kor. 3 : 16,”Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya.

Seperti pada hari sebelumnya, Bpk. J. G. Sormin juga menabur banyak firman Tuhan yang mungkin bisa menjadi ayat-ayat emas bagi jemaat untuk menguatkan mereka dan juga lebih mengenal Yesus sebagai Juru Selamat pribadi.

Pdt-Simarmata-Napitu

Pdt. J. Tobing, Bpk. Simarmata dan Pnt. Napitupulu saat ramah-tamah

Selesai Penyegaran Iman, acara dilanjutkan dengan ramah-tamah antara jemaat dengan OV Ministry. Pada kesempatan ini jemaat, yang diwakili oleh Bpk. Simarmata dan Penatua Napitupulu, menyampaikan rasa syukurnya kepada Tuhan betapa, dengan adanya acara seperti ini, pikiran mereka disegarkan kembali untuk lebih mengerti kehendak Allah melalui firman-Nya. Dalam kesempatan ini Bpk. Napitupulu juga mengungkapkan bahwa gereja GKPI Tebing Tinggi Kota, atas pertolongan Tuhan, dapat direnovasi tanpa mengadakan lelang tetapi dengan terbukanya hati jemaat untuk memberi sumbangan secara suka rela.

Pada kesempatan kali ini, Okuli Voice Ministry memberikan persembahan untuk dipakai pada pelayanan atau pembangunan gereja GKPI Tebing Tinggi Kota sebesar Rp. 5.000.000. OV Ministry juga berharap supaya para hamba Tuhan dan jemaat di gereja ini tetap bersemangat di dalam pelayanan dan semakin mengasihi antara satu dengan yang lain.

Pelayanan Okuli Voice Ministry di GKPI Martoba, GKPI Perumnas Batu VI dan GKPI Laras II

Pada tanggal 4 sampai dengan 6 Mei 2012, atas undangan Pendeta Resort masing-masing, Okuli Voice Ministry mengadakan pelayanan di GKPI Martoba Pematangsiantar, GKPI Perumnas Batu VI dan GKPI Laras II, Simalungun.

Kebaktian Penyegaran Iman di GKPI Martoba

Kebaktian Penyegaran Iman di GKPI Martoba

Hari Jumat, tanggal 4 Mei 2012, Okuli Voice Ministry mengadakan pelayanan Kebaktian Penyegaran Iman dan juga Pembekalan kepada Penatua di GKPI Martoba, Pematangsiantar.

Okuli Voice Ministry

Acara yang berlangsung dari sore hingga malam hari ini dihadiri oleh kurang lebih 50 orang anggota jemaat dan para penatua GKPI Martoba ini berlangsung dengan hikmat dalam suasana penuh kekeluargaan.

Setelah ibadah selesai, acara dilanjutkan dengan pembekalan ter-hadap penatua yang dilaksanakan dalam dua sesi.

Pontas M. Pardede, Drs, MSc, MBA

Pada sesi pertama disajikan materi “Manajemen Perilaku dan Situasi” dengan nara sumber Pontas M. Pardede, Drs, MSc, MBA (Dosen Universitas HKBP Nomensen, Medan)

Dalam sesi ini Bpk. Pontas Pardede mengatakan bahwa gereja, termasuk GKPI, adalah suatu organisasi sehingga harus memiliki tujuan dan anggota yang bisa menghidupi diri sendiri.

Namun demikian, tidak seperti organisasi pada umumnya, gereja merupakan suatu organisasi yang unik. Tujuan dari gereja adalah menyelamatkan jiwa sebanyak mungkin.

Secara normal, anggota suatu organisasi mestinya harus bertambah banyak. Jika anggota sebuah organisasi berkurang, maka pasti ada yang salah dengan organisasi tersebut. Dalam hal ber-gereja, seharusnya semua kebutuhan rohani anggota jemaat dapat diperoleh dari gereja. Jika dalam hal mengatasi masalahnya, anggota jemaat lebih memilih berkonsultasi ter-hadap orang lain selain penatua dan pendeta, maka pasti ada yang salah.

Jika hal ini merupakan suatu masalah, maka harus segera diatasi. Dalam hal inilah nyata peran dari para penatua sebagai ujung tombak dalam pelayanan GKPI di seluruh dunia.

Pertama-tama, semua pelayan di GKPI harus meyakini bahwa GKPI lah gereja yang terbaik sehingga harus berusaha keras untuk menjaring jiwa sebanyak mungkin. Pekerjaan sebagai penatua adalah pekerjaan yang indah, tetapi sekaligus merupakan pekerjaan yang berat dengan syarat-syarat yang berat pula. (lih. 1Tim. 3 : 1 – 7 dan 1Tim. 5 : 17 – 25)

Dalam pelayanannya, seorang penatua sedikit banyaknya harus mengetahui cara berkomunikasi yang baik. Misalnya, dalam hal menyampaikan Firman Tuhan, seorang penatua harus dapat menjelaskannya dengan baik sehingga pesan yang disampaikannya dapat diterima dengan benar oleh jemaat yang dilayaninya.

Dalam hal ini ada baiknya kalau penatua membekali diri dengan membaca buku-buku yang menambah pengetahuan tentang cara berkomunikasi yang baik.

Sebagai pelayan, seorang penatua juga harus dapat menyesuaikan diri dengan situasi jemaat yang dilayani. Artinya, seorang penatua harus benar-benar mengenal domba-domba yang digembalakannya. Misalnya dalam hal menyatakan kebenaran Firman, penatua harus tahu bahwa seorang jemaatnya mungkin dapat menerima teguran secara langsung (to the point), tetapi jemaat yang lain mungkin harus ditegur dengan menggunakan perumpamaan.

Dalam hal ini, seorang penatua juga harus mengerti tentang manajemen perilaku dan situasi, yaitu pengelolaan perilaku dan situasi agar perilaku dan situasi itu sesuai dengan yang seharusnya, dan agar antara perilaku dan situasi itu benar-benar sesuai.

Supaya lebih mudah dipahami, manajemen situasi berarti bagaimana situasinya dapat kita sesuaikan dan manajemen perilaku dapat diartikan suatu perilaku yang dimulai dari kita lebih dulu.

Pada sesi kedua, yang tampil sebagai pembicara adalah Bpk. J. Ganda Sormin (Anggota Majelis Pusat GKPI dan Pembina Okuli Voice Mi-nistry), dengan materi “Kehadiran Mesias-mesias Palsu dan Nabi-nabi Palsu Pada Hari Terakhir”

J. G. Sormin

Jika kita melihat kejadian-kejadian dan kejahatan yang terjadi akhir-akhir ini melalui media massa dan televisi, maka pembicara meyakini bahwa kita sudah berada di akhir zaman, tetapi baru pada permulaannya. Mungkin kejadian-kejadian ini merupakan cara Allah untuk menyatakan Firman-Nya? Sebab banyak cara Allah untuk menyatakan firman-Nya, tetapi orang tidak memperhatikannya. (lih. Ayb. 33 : 14 – 16).

Dan pada zaman akhir akan muncul Mesias-mesias dan nabi-nabi palsu yang akan menyesatkan umat Tuhan, termasuk orang-orang pilihan.

Pembicara menyadari bahwa mungkin ada diantara penatua-penatua di GKPI Martoba yang sudah melayani selama lebih dari sepuluh tahun, sehingga pengalamannya sudah pasti banyak.

Namun demikian, pembicara mau mengingatkan kembali bahwa bila kita dihadapkan dengan penyesat-penyesat di akhir zaman, apakah kita sudah benar-benar siap dan apakah yang menjadi senjata kita untuk menghadapi mereka? Hal ini sangat penting sebab nabi-nabi palsu ini akan berusaha menyesatkan orang-orang pilihan juga, termasuk penatua.

Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.”

Mat. 24 : 24

Untuk itu, para penatua harus semakin membekali diri dengan iman kepada Yesus dalam pelayanannya pada zaman akhir ini. Para penatua, sebagai bapak atau ibu rohani, harus bisa menyelamatkan jiwa-jiwa jemaat yang mereka gembalakan dan juga tentunya diri mereka sendiri harus kuat menghadapi penyesat-penyesat akhir zaman ini.

Dari manakah kita mengetahui bahwa seorang nabi itu nabi palsu?

Pertanyaan ini mungkin menjadi pertanyaan kita semua. Untuk bisa mengetahui hal ini, kita harus terlebih dahulu memiliki iman dan kita harus ingat Firman Tuhan yang tertulis dalam Mat. 7 : 20 yang mengatakan, “Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.

Dalam hal ini pembicara juga menghubungkannya dengan tidak adanya persatuan diantara umat Tuhan sendiri pada saat ini. Kita mengetahui bahwa ada gereja saat ini yang mengklaim dirinya sebagai ‘gereja hidup baru’. Jika ada ‘gereja hidup baru’ berarti ada ‘gereja hidup lama’. Dan jika sudah demikian, sulit rasanya untuk bisa menyatukan keduanya.

Melihat hal ini, pembicara baru menyadari mengapa Yesus dalam doa-Nya kepada Bapa meminta sampai empat kali supaya umat-Nya menjadi satu. (Yoh. 17 : 11,   Yoh. 17 : 21 – 23). Ini juga menjadi tantangan bagi para penatua untuk bisa memberikan pengertian yang benar kepada jemaat akan iman kepada Yesus Kristus.

Memberikan semangat (motivasi) kepada jemaat Tuhan

Salah satu penyebab mudahnya jemaat disesatkan oleh nabi-nabi palsu sehingga mereka menjauh dari persekutuan dengan Tuhan dan gerejanya adalah akibat hilangnya semangat hidup oleh karena persoalan yang dihadapi dalam hidup sehari-hari. Bahkan, mereka sering mengalami keputusasaan dalam menjalani hidup, yang bisa diakibatkan oleh berbagai hal, seperti kesulitan ekonomi dan penderitaan akibat sakit penyakit.

Jemaat GKPI Martoba

Hal ini merupakan satu tantangan bagi para penatua untuk bisa memberikan semangat kepada jemaat yang digembalakannya, sehingga pengharapan akan Tuhan Yesus tetap ada dalam diri jemaat. Ini me-rupakan tugas yang sangat berat sebab kita semua, termasuk penatua, juga punya masalah pribadi masing-masing. Tetapi seorang penatua harus bisa terlebih dahulu mengatasi permasalahannya dan harus tetap bersemangat dalam pelayanannya, baru kemudian bisa memberikan semangat kepada jemaat gembalaannya.

Lalu, bagaimanakah caranya untuk memberikan semangat kepada jemaat yang tidak memiliki semangat dalam hidupnya? Tidak ada cara yang lebih baik selain menggunakan Firman Tuhan. Banyak Firman Tuhan dalam Alkitab yang bisa kita baca untuk membangkitkan semangat dalam hidup ini, misalnya dalam Kitab Amsal (Ams. 15 : 13; Ams. 17 : 22; Ams. 18 : 14)

Kita juga harus mampu menguatkan jemaat dengan Firman Tuhan yang menyatakan bahwa pencobaan yang dialami seseorang bukanlah dari Allah sebab Ia tidak mencobai siapapun. Tetapi, tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. (Yak. 1 : 13 – 15). Dan yang lebih indah lagi bahwa Tuhan sesungguhnya merancangkan hari depan yang penuh harapan kepada kita umat-Nya. (Yer. 29 : 11)

Siapakah yang memberikan sema-ngat yang sesungguhnya kepada kita?

Apakah kita dapat memperoleh semangat dari suplemen-suplemen penambah semangat yang banyak dijual di pasar saat ini? Tentunya tidak. Kita harus tahu bahwa kita hanya memperoleh semangat yang sesungguhnya dari Allah.

“Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah se-mangat kepada yang tiada berdaya.” Yes. 40 : 29

Hal lain yang perlu kita perhatikan supaya kita tetap bersemangat dalam hidup, baik kehidupan jasmani maupun rohani ialah bahwa kita harus tetap memelihara damai sejahtera yang telah diberikan Tuhan Yesus kepada kita. ( Yoh. 14 : 27)

Damai sejahtera yang diberikan Yesus kepada kita tidak seperti yang diberikan oleh dunia ini, sehingga kita tidak perlu gelisah dan gentar ketika menghadapi persoalan atau pergumulan dalam hi-dup ini. Jika kita menginginkan sesuatu dalam hidup ini, misalnya supaya kita bisa mengatasi per-soalan kita, maka kita harus menyatakannya dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur kepada Allah. (Flp. 4 : 6)

Kita tidak boleh takut dan cemas, sebab apa yang kita takutkan dan cemaskan, itulah yang mendatangi kita (Ayb. 3 : 25). Supaya kita tidak kuatir dan gentar maka kita juga harus memiliki pikiran yang postif dan memikirkan hal-hal yang baik.

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Flp. 4 : 8

Pertanggungjawaban pada hari penghakiman

Sebagai hamba Tuhan, penatua memiliki kewajiban untuk memperingatkan jemaat, jika melihatnya melakukan sesuatu yang jahat di hadapan Tuhan.

Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! — dan engkau tidak mempe-ringatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesa-lahannya, tetapi Aku akan me-nuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.”

Yeh. 3 : 18

Dalam hal ini, sebagai pelayan Tuhan dan bapak atau ibu rohani bagi jemaat di sektor masing-masing, seorang penatua dituntut untuk bisa menjelaskan kebenaran Firman Tuhan sehingga jemaat yang digembalakannya dapat beroleh keselamatan oleh karena imannya kepada Yesus Kristus sebagai satu-satunya Juru Selamat. (Yoh. 14 : 6)

Tetapi, jika orang atau jemaat yang sudah diperingati tetap ber-buat jahat, maka kita sudah menyelamatkan nyawa kita. (Yeh. 3 : 19)

Pada akhirnya, kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang mem-peroleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dila-kukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat (2Kor. 5 : 10). Oleh karena itu, sebagai pelayan, kita harus tetap berusaha keras untuk menjaring jiwa sebanyak mungkin, untuk memperoleh keselamatan yang dari Bapa yang di sorga. Dengan demikian kita bisa yakin bahwa Yesus akan mengakui kita di depan Bapa yang disorga pada hari penghakiman.

“Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya.” (Why. 3 : 5)

Kebaktian Penyegaran Iman di GKPI Resort Perumnas Batu VI

Hari Sabtu, tanggal 5 Mei 2012, Okuli Voice Ministry melayani pada Kebaktian Penyegaran Iman di GKPI Resort Perumnas Batu VI, Simalungun. Selesai acara ibadah, kemudian dilanjutkan dengan acara Pembekalan terhadap Penatua yang melayani di gereja tersebut.

Jemaat GKPI Perumnas Batu VI

Seperti pada hari sebelumnya, pembekalan kali ini diadakan dalam dua sesi dengan materi yang sama seperti pada pembekalan penatua di GKPI Martoba Pematangsiantar. Sesi I dengan materi “Manajemen Perilaku dan Situasi “ dibawakan oleh Pontas M. Pardede, Drs, MSc, MBA.

Sesi II  membahas tentang tantangan yang akan dihadapi para penatua pada hari terakhir yaitu munculnya Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu, yang diba-wakan oleh oleh J. Ganda Sormin.

Acara yang dilaksanakan dari pagi sampai sore hari ini berlangsung dengan penuh hikmat dan dihadiri oleh kurang lebih 70 orang anggota jemaat dan penatua di GKPI Resort Perumnas Batu VI, yang dengan tekun mengikuti sampai acara selesai.

Kebaktian Minggu di GKPI Laras II

Pada tanggal 6 Mei 2012, Okuli Voice Ministry melayani pada Ibadah Minggu di GKPI Laras II, Simalungun. Pada kebaktian kali ini OV Ministry menjadi pelayan musik dan song leader. Pelayanan Firman Tuhan disampaikan oleh Bpk. J. Ganda Sormin. Dalam pelayanan kali ini OV Ministry didampingi oleh Koor Tabitha dari GKPI Siantar Kota.

Sebagai nats kotbah diambil dari Yakobus pasal 2 ayat 8 sampai dengan 17 yang berbicara tentang kasih kepada sesama manusia tan-pa memandang muka.

Dalam hal ini kasih yang dimaksud adalah kasih yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, yaitu kasih yang tidak meremehkan orang yang miskin dan hina. (Mat. 22 : 37 – 40)

Jika kita berbicara tentang kasih, maka erat hubungannya dengan Yesus, dan sebaliknya. Akan hal pengajaran-Nya di dunia ini, kita mengetahui bahwa Tuhan Yesus sangat konsekuen dengan ajaran kasih ini.

Padahal, pada  penghakiman terakhir, Tuhan Yesus akan memper-itungkan apa yang sudah kita lakukan kepada saudara kita yang miskin dan hina. (Mat. 25 : 31 – 46)

Memang orang sering mengalami kesulitan saat hendak mengamalkan ajaran kasih ini, akibat pencobaan-pencobaan yang dialami. Hal ini juga dialami oleh Bpk. J.G. Sormin dalam kesehariannya, dimana apa yang didoakannya, justru hal itu yang datang padanya. Misalnya, jika pada suatu hari beliau mempelajari Alkitab yang berhubungan dengan iman, maka masalah semakin banyak yang menuntut beliau untuk bisa mempertahankan imannya. Ketika beliau mempelajari dan mengajarkan tentang kasih, justru muncul tantangan yang menuntut beliau untuk lebih mengasihi.

Mungkin kita juga mengalami hal yang sama ketika hendak mengamalkan kasih. Bagaimana mungkin kita bisa mengasihi musuh kita? Mengasihi orang yang telah melukai kita? Orang yang telah menghancurkan kita? Tetapi, itulah kasih yang diajarkan oleh Tuhan kita, Yesus Kristus.

Jika kita mengasihi seseorang dengan memandang muka, maka itu bukanlah kasih yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Meskipun banyak pergumulan ketika hendak mengamalkan kasih, kita harus berusaha menang dan setia sampai akhir sebab jika kita setia sampai mati, maka Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada kita mahkota kehidupan. (Why. 2 : 10)

Selesai Ibadah Minggu, acara dilanjutkan dengan Penyegaran Iman bersama para Penatua yang melayani di GKPI Laras II. Sebagai pembicara adalah Bpk. J. G. Sormin dengan topik yang juga berhubungan dengan akhir zaman.

Seperti pada acara pembekalan penatua sebelumnya, pembicara menekankan perlunya kesiapan dari para hamba Tuhan, khususnya para Penatua di GKPI Laras II, untuk menghadapi kemunculan nabi-nabi palsu pada hari terakhir. (Mat. 24 : 24)

Dengan apakah kita bisa menghadapi mereka? Tentunya dengan iman kepada Kristus. Begitu juga dalam pelayanannya, para penatua harus bisa memberi motivasi kepada jemaat yang digembalakannya untuk tetap memiliki iman terhadap Yesus. Sebab, iman jemaat timbul dari pendengaran, dan pen-dengaran oleh firman Kristus yang disampaikan oleh para hamba Tuhan, termasuk penatua. (Rom. 10 : 17)

Untuk bisa melakukan tugas berat ini, para penatua harus meminta hikmat kepada Allah. (Yak. 1 : 5) Dengan hikmat yang dari Allah maka para penatua niscaya akan mampu memimpin jemaat yang digembalakannya sehingga tetap memiliki iman kepada Yesus dan pada akhirnya akan memperoleh keselamatan.

Selesai acara Penyegaran Iman, dilanjutkan dengan acara singkat berupa ramah-tamah antara jemaat dengan OV Ministry. Pada kesempatan ini jemaat, yang diwakili oleh Guru Jemaat GKPI Laras II, menyampaikan kondisi gereja dan jemaat Tuhan di gereja ini. Pada saat ini sedang berlangsung pembangunan gereja dan masih dalam tahap pembangunan. Mayoritas jemaat gereja adalah petani sehingga sangat sulit untuk mengumpulkan dana untuk pembangunan dalam waktu singkat. Kemudian salah seorang jemaat yang dituakan juga menyampaikan rasa syukurnya kepada Tuhan atas kunjungan OV Ministry ke gereja mereka sebab mereka merasa imannya semakin bertumbuh.

Pada kesempatan ini, Okuli Voice Ministry memberikan persembahan untuk pelayanan atau pembangunan gereja GKPI Laras II sebesar Rp. 5.000.000, yang diterima langsung oleh Guru Jemaat GKPI Laras II. OV Ministry juga berharap supaya para hamba Tuhan di gereja ini tetap bersemangat dalam melayani Tuhan bagaimanapun situasinya.

OV Ministry dan Koor Tabitha di GKPI Laras II

Ayo Semangat – Go…Go…Go!

oleh: James Ganda Sormin

JG-SorminBegitu pentingkah semangat dalam hidup ini? Bagi olahragawan, semangat merupakan faktor yang sangat penting untuk bisa memenangkan suatu pertandingan atau kompetisi. Tanpa semangat juang yang tinggi, akan sulit rasanya untuk bisa memperoleh hasil maksimal.

Sering kita jumpai, misalnya dalam sebuah pertandingan sepak bola, jika kemampuan teknis dari kedua tim sama maka yang membedakan adalah semangat juang. Tim yang lebih bersemangat akan dapat memenangkan pertandingan tersebut. Dalam hal inilah nyata peran dari supporter atau pemberi semangat dalam sebuah pertandingan sepak bola maupun bidang olah raga lainnya. Bahkan kita melihat banyak sekali supporter klub sepak bola di Indonesia yang sudah memiliki organisasi legal dengan tujuan memberikan semangat ketika tim kesayangannya bertanding.

Apakah semangat hanya dibutuhkan dalam bidang olah raga? Tidak, tentunya. Dalam keseharian kita sangat memerlukan semangat untuk menjalani hidup. Tidaklah mengherankan mengapa banyak sekali kita jumpai buku tentang motivasi atau membangkitkan semangat di toko-toko buku dan pada umumnya merupakan buku terlaris. Demikian juga dengan seminar-seminar tentang bagaimana melalui hidup dengan semangat.

Mengapa kita perlu semangat?

Jika perjalanan hidup kita lancar-lancar saja, mungkin kata “semangat” tidak memiliki arti apa-apa sebab kita tidak membutuhkannya. Namun kita tahu bahwa Tuhan tidak menjanjikan langit akan selalu biru tanpa awan gelombang, siang tanpa malam. Tuhan juga tidak menjanjikan perjalanan yang indah tanpa tantangan. Tetapi Tuhan menjanjikan akan memberi kekuatan, dalam hal ini merupakan semangat untuk melampaui segala pergumulan hidup yang pasti kita alami.

Oleh karena itu, semangat baru sangat berarti apabila kita dalam pergumulan hidup, pencobaan atau bahkan penderitaan. Dengan semangat orang dapat menanggung penderitaan; hilang kemauan itu, hilang juga segala harapan. Dalam kitab Ams. 18:14 dikatakan, “Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?”

Dari manakah kita memperoleh semangat?

Sebagai umat Tuhan, kita harus percaya bahwa Allah sendiri yang memberikan semangat kepada kita, seperti yang tertulis dalam kitab Yes. 40:29, “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.”

Terlebih lagi, Tuhan kita Yesus Kristus akan meminta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepada kita seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kita selama-lamanya. (Yoh.14:16)

Penolong yang dimaksud dalam hal ini ialah Roh Kebenaran, yaitu Roh Allah yang akan menyatakan kebenaran tentang Allah.

Oleh karena itu, meskipun kita mengalami penderitaan atau pencobaan, kita akan bisa melaluinya dengan tetap bersemangat. Pada akhirnya, kita akan dapat memahami bahwa semangat adalah kemampuan dari kita untuk melihat kenyataan-kenyataan dan merasakan suatu permasalahan adalah indah serta menganggap sakit dan kekurangan adalah untuk membuktikan apakah kita sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan atau tidak.

Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.” (1Ptr.1:6-7)

Iblis Adalah Satu-Satunya Oknum Yang Merasa Keberatan Atas Kematian Tuhan Yesus

oleh: James Ganda Sormin

JG-SorminTentang hal kematian-Nya, Yesus tidak pernah menutup-nutupi, bahkan Ia berterus terang bahwa akan tiba saatnya Ia akan mati. Namun, ada oknum yang tidak senang bahkan sangat keberatan dengan kematian-Nya yaitu Iblis.

Mengapa bisa demikian? Kita bisa melihat apa yang dilakukan Iblis melalui Petrus pada saat Yesus memberitahukan kepada orang banyak tentang penderitaan-Nya.

Mrk. 8 : 31-32

“Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.

Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia.”

Disini Iblis memakai Petrus untuk menyatakan keberatannya atas keterus-terangan Yesus akan kematian-Nya. Mengapa Petrus? Mungkin karena Petrus adalah salah seorang murid yang special.

Memang, Iblis selalu memakai sesuatu yang spesial dalam mencapai tujuannya. Dalam kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa, Iblis juga memakai makhluk yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh Tuhan Allah, yaitu ular, untuk menggoda manusia. Hasilnya, manusia itu pun jatuh ke dalam dosa.

Dengan usahanya ini kita tahu bahwa Iblis sering berhasil dalam usahanya dan hasil karyanya dapat kita lihat pada kitab Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.

Namun apakah Iblis berhasil menghentikan Yesus untuk tidak berterus terang tentang hal kematian-Nya? Selanjutnya kita tahu apa yang dilakukan Yesus pada Petrus dimana Ia menegor murid-Nya itu dengan keras, kata-Nya,”Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mrk. 8 : 33). Yesus tahu apa maksud Iblis melalui Petrus dan Ia tidak akan dapat dikalahkan oleh Iblis.

Mengapa Iblis begitu takut akan kematian Yesus?

Iblis tahu bahwa Yesus datang ke dunia ini dengan tujuan untuk menyelamatkan manusia ciptaan Allah yang telah jatuh ke dalam dosa akibat godaan Iblis. Dan Iblis tahu bahwa satu-satunya jalan untuk mendamaikan manusia dengan Allah adalah dengan mengalahkan dunia (Iblis) melalui kematian Yesus di kayu salib, dimana Yesus dimuliakan.

Yoh. 16 : 33,”Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.

Kol. 2:14-15:

Dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib:

Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka.

Arti kebangkitan Tuhan Yesus

Iblis juga sangat takut akan kebangkitan Yesus pada hari yang ketiga seperti yang diberitahukan Yesus kepada murid-murid-Nya. Jika Yesus bangkit, semakin nyatalah kekalahan Iblis sebab Yesus akan menjadi Pembela bagi manusia.

Rom. 8:34:

Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?

Juga melalui kebangkitan Yesus, manusia menjadi pemenang, seperti yang tertulis dalam kitab Rom. 8:37, “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.

Selanjutnya, melalui kebangkitan Yesus, manusia akan sungguh-sungguh menjadi manusia yang merdeka dari perbudakan si Iblis.

Gal. 5:1,

Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.

Melalui kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus, manusia telah benar-benar disembuhkan dari penyakit parah yang disebut dosa.

Yes 53:5,

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

1Ptr 2:24,

Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.”

Juga melalui kematian dan kebangkitan Yesus, manusia telah dikuduskan sekali untuk selama-lamanya.

Ibr. 10:10,

Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.

Hal inilah yang sangat tidak disukai oleh si Iblis sehingga dia sangat keberatan atas kematian Tuhan Yesus, sebab dia tahu bahwa dia akan dikalahkan melalui kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya pada hari yang ketiga.

Melalui kematian dan kebangkitan Yesus, kita manusia kembali berdamai dengan Allah sehingga kita layak memperoleh keselamatan kita kembali, yang telah dicuri oleh si Iblis.

Oleh karena itu, kita sebagai umat Tuhan harus senantiasa bersyukur akan kebaikan Allah yang telah mengorbankan Anak Tunggal-Nya supaya kita yang percaya kepada-Nya beroleh selamat.

Kita juga tidak boleh lagi gelisah dan gentar hati sebab Yesus berpesan:

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu”. (Yoh. 14:27)

Nasib,… Oh Nasib

JG-Sormin oleh: James Ganda Sormin

Ringan, gampang, sepertinya tidak mempunyai masalah bagi orang-orang yang senantiasa mengucapkan kata-kata ini, seperti: “Nasib, betapa malangnya nasibku, sudah begini nasibku, nasib ini harus dirubah, nasib yang sudah dirundung malang dan sebagainya.

Bagi sebagian orang, kata-kata ini hanya sekedar pelampiasan emosi atau juga kekesalan seketika saat keletihan, lelah bahkan diakibatkan kegagalan dalam pekerjaan, rancangan-rancangan bahkan kegagalan meraih cita-cita dan juga hidup yang tidak bahagia, gagal dalam perkawinan, dan lain-lain.

Sungut-sungut, atau penulis lebih cenderung memakai istilah sekarang – ocehan (mengoceh) atau bersungut-sungut kepada kepada diri sendiri atau kesal kepada orang lain disebabkan kekesalan, artinya: “Seseorang itu mengoceh karena gagal meraih apa yang diinginkan hatinya.”

Tidak peduli dimanapun dan kapanpun manusia itu berada, ketika kegagalan itu dating, ocehan ini pun dengan ringan disebutkan. Suatu gaya hidup atau latah saja atau memang bentuk (sikap) kekesalan saja?

Manusia yang senantiasa mengoceh dengan kata sia-sia adalah manusia yang  tidak berpengharapan, yang menjurus hujatan dan mendukakan Roh Kudus. Disaat apa pun kita, Firman Tuhan mengatakan, “Biarlah mulut kita senantiasa mengucapkan puji-pujian kepada Tuhan.” Maz. 145 : 21

Bagaimana Firman Tuhan Menyikapinya

Tetapi Aku berkata kepadamu: setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman, karena menurut ucapanmu engkau dibenarkan dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” Mat. 12 : 36 – 37

Dalam catatan kami, kata “sia-sia” adalah kata-kata yang tidak bermakna dan tidak “berpengharapan”. Sementara, Tuhan Yesus datang ke dunia agar semua manusia harus berpengharapan, artinya tidak ada duka cita atau hati yang bersungut-sungut. Ini bisa kita buktikan melalui pengajaran-Nya dalam Firman-Nya:

  1. Akulah jalan dan kebenaran dan hidup…” Yoh. 14 : 6b
  2. Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu…” Mat. 11 : 28c
  3. Mintalah…akan diberikan, carilah…” Mat. 7 : 7

Dan yang paling berharga sekali bagi kita manusia, Firman-Nya: “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu…, bahkan Aku menyertaimu sampai akhir zaman.” Yoh. 14 : 18; Mat. 28 : 20

Ini adalah garansi yang ditawarkan oleh Yesus kepada umat-Nya. Pada umumnya garansi yang di bumi paling lama 2 sampai 5 tahun, tetapi garansi yang dari Dia memiliki jangka waktu yang luar biasa lamanya (sampai akhir zaman).

Dari pengajaran-pengajaran tersebut (melalui Firman-Nya), sebenarnya tidak ada lagi yang kurang bagi kita untuk melakukan aktivitas dalam kehidupan ini yang tidak digaransi Yesus. Oleh karena itu kita pun tidak seharusnya bersungut-sungut lagi dengan ucapan yang sia-sia seperti tersebut di atas.

Bagaimana Manusia Menyikapinya

Kita tahu bahwa setiap perkataan yang keluar dari mulut itu berasal dari hati, melalui alat perkataan yaitu lidah dan perkataan itu berkuasa, sehingga Firman Tuhan menyatakan tidak boleh dengan satu sumber (mulut) keluar berkat dan kutuk (Yak. 3 : 10). Artinya setiap perkataan yang keluar dari mulut itu sungguh terjadi. Oleh karena itu Firman Tuhan menyatakan dengan tegas agar kita jangan sembarangan mengucapkan kata-kata atau ucapan yang tidak bernilai (sia-sia) karena berakibat kutuk.

Mungkin anda masih ingat apa yang hendak dilakukan Bileam kepada bangsa Israel atas permintaan Balak, Raja Moab itu, agar Bileam mengutuk bangsa Israel (Bil. 22 : 6). Tetapi Firman Tuhan kepada Bileam, “Janganlah engkau pergi bersama-sama dengan mereka, janganlah engkau mengutuk bangsa itu, sebab mereka telah diberkati.” Bil. 22 : 12

Kemudian malaikat Tuhan menghempang Bileam agar jangan sampai mengeluarkan kata kutuk, kata sia-sia dari mulutnya, sebab kalau diucapkan maka jadilah (Bil. 22 : 23-24). Akan tetapi yang diijinkan Tuhan, “…tetapi hanyalah perkataan yang akan Kukatakan kepadamu harus kau katakan…” Bil. 22 : 35

Begitu Pentingkah Ucapan-Ucapan (Perkataan) Ini Bagi Tuhan?

Firman Tuhan, “…menurut ucapanmu engkau dibenarkan…

Musa dianggap Tuhan melecehkan-Nya, namun apa sebenarnya yang dilakukannya? Musa mencuri kemuliaan Tuhan.

Ketika Tuhan mengatakan, berbicaralah kepada bukit batu itu di depan mereka (bangsa Israel) supaya diberi airnya, demikianlah engkau mengeluarkan  air  dari bukit batu itu. Tetapi yang dilakukan Musa, “…apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” Bil. 20 : 7-10

Tentunya Musa dalam keadaan panik dan emosi dalam menghadapi sungut-sungut bangsa Israel ini sehingga ia menjadi lepas kontrol mengeluarkan kata-kata, seolah-olah atas kehendak Musalah air keluar dari batu itu. Ucapannya itu membuat Tuhan menjadi marah, sehingga menghukum Musa dan Harun, dengan tidak mengijinkan mereka membawa bangsa Israel ke negeri yang akan diberikan Tuhan kepada mereka. Bil. 20 : 12.

Mikhael sendiripun, yang kita kenal melalui Firman-Nya sebagai penghulu malaikat, ketika berselisih dengan iblis perihal mayat Musa tidak berani memakai kata-kata hujatan, namun menyerahkan persoalannya kepada Tuhan, dengan berkata, “Kiranya Tuhan menghardik engkau.” Yudas 1 : 9

Kalau penghulu malaikat saja tidak memakai kata sia-sia (hujatan) di dalam persoalannya, bagaimana dengan kita, yaitu kita yang mempunyai 1001 (seribu satu) persoalan ini?

Oleh karena itu, melalui tulisan ini, penulis hanya mengingatkan kepada pembaca agar berhati-hati mengucapkan kata-kata pada saat apapun, sebab apabila salah mengucapkan akan bisa mendukakan Roh Kudus dan tidak akan mendapatkan pengampunan selama-lamanya (Mrk. 3 : 29).

Firman Tuhan: “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut itulah yang menajiskan orang” Mat. 15 : 10-11. Firman ini diberikan kepada kita sebagai pengajaran (penekanan) bahwasanya kita manusia ini harus belajar untuk menghancurkan kebiasaan berbicara negatif yaitu kata sia-sia yang melahirkan kutuk-kutuk dalam hidup kita dan keluarga kita. Yang sebaiknya kita ucapkan hanyalah: “Mengucap syukur dalam segala hal, sebab itulah yang di kehendaki Allah dalam Yesus Kristus bagi kamu.” 1 Tes 5 : 18

Selamat Datang di Website Okuli Voice Ministry

Syalom,

Selamat datang di website kami OkuliVoiceMinistry.com.

Bukanlah suatu kebetulan anda mengunjungi website kami, tetapi oleh karena perhatian anda yang begitu besar untuk mendukung pelayanan Okuli Voice Ministry.

Kami mengucapkan terima kasih atas waktu dan dukungan moril yang anda berikan untuk pelayanan kami.

Perayaan Paskah Raya Bersama Civitas Akademika Dan Alumni Universitas HKBP Nomensen

OVM at NomensenHari Sabtu, tanggal 25 April 2009, Okuli Voice Ministry memenuhi undangan Panitia Perayaan Paskah Raya Bersama Civitas Akademika Dan Alumni Universitas HKBP Nomensen untuk melayani pada Ibadah Paskah yang diadakan dalam rangka Hari Ulang Tahun Ke-55 Universitas HKBP Nomensen dan Fakultas Ekonomi Univ. HKBP Nomensen.

Perayaan Paskah yang dilaksanakan di halaman Kampus Universitas HKBP Nomensen tersebut dimulai pada pukul 16.00 WIB dan dihadiri oleh ratusan Civitas Akademika Dan Alumni Universitas HKBP Nomensen.

civitas-akademika-univ-nomensen

Sebagai Pelayan Firman pada ibadah tersebut adalah Bpk. James Ganda Sormin. Dalam khotbahnya, Bpk. J.G Sormin mengajak seluruh Civitas Akademika Dan Alumni Universitas HKBP Nomensen untuk lebih merenungkan arti kasih yang dari Bapa.

JG-at-Paskah-Nomensen

Ibadah Paskah Raya ini berlangsung penuh hikmat dan suka cita. Dalam ibadah, Okuli Voice Ministry mempersembahkan lagu-lagu pujian untuk kemuliaan Tuhan.

OV-at-Paskah-Nomensen

Pada ibadah ini, Okuli Voice Ministry juga didampingi mitra pelayanannya yakni Reinhard “Amat Amigos” Nainggolan, yang juga mempersembahkan beberapa lagu rohani dalam acara ibadah.

Amat-at-Paskah-Nomensen

Turut juga mempersembahkan lagu pujian, paduan suara mahasiswa Universitas HKBP Nomensen yang lebih dikenal denga Paduan Suara Concordia.

Paduan Suara Concordia

Selesai ibadah, jemaat yang hadir dihibur oleh lagu-lagu yang dibawakan oleh Reinhard “Amat Amigos” Nainggolan. Tampak para hadirin sangat menikmati alunan lagu yang dibawakan oleh Amat Amigos.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas HKBP Nomensen,. Dr Ir Jongkers Tampubolon MSc,  menyampaikan apresiasinya terhadap Perayaan Paskah Raya ini.

Rektor-UHN